Senin, 12 Oktober 2009

KONTRAVERSI PUTERI INDONESIA ASAL ACEH

 Terkejut sekaligus haru ketika membaca catatan seorang teman di facebooknya tentang ajang pemilihan ratu kecantikan seantero Indonesia. Yang membuat saya terkejut bukanlah momentum acara yang tiap tahun diselenggarakan itu, melainkan penobatan sang ratu atau yang lebih populer dengan “Pemilihan Puteri Indonesia (PPI)” jatuh kepada gadis yang berasal dari Aceh. Benar-benar sebuah rekor yang tak pernah dimiliki Aceh sebelumnya. Meski setiap tahun tidak pernah absen dari ajang bergengsi tersebut, tetapi Aceh hanya mampu masuk babak finalnya saja.

Puteri Indonesia sendiri adalah kontes kecantikan di Indonesia yang diselenggarakan sejak tahun 1992 oleh Yayasan Puteri Indonesia yang diketuai oleh Mooryati Soedibyo dan disponsori oleh perusahaan kosmetik Mustika Ratu. Puteri Indonesia akan menjadi wakil Indonesia atau duta bangsa pada kegiatan-kegiatan yang bertaraf Internasional dan ikut serta dalam memajukan komoditas-komoditas ekspor Indonesia, pariwisata dan budaya Indonesia. Puteri Indonesia juga melakukan berbagai aksi sosial ke daerah-daerah yang membutuhkan untuk turut memberikan penghiburan dan bantuan.



Sejak tujuh belas tahun diselenggarakan, Provinsi DKI Jakarta mendominasi juara ajang bergengsi yang parameter penilaiannya dikenal dengan istilah 3B, yaitu: brain (kecerdasan), beauty (penampilan menarik) dan behavior (berperilaku baik). Selain itu, terampil dalam berkomunikasi, dapat berpikir secara rasional, memiliki pengetahuan umum yang luas dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi serta berwawasan pariwisata.

Meski beberapa kali mahkota yang terbuat dari bahan emas putih dengan taburan berlian, batu-batu semi precious, serta batu akik dan mutiara ini berpindah ke beberapa provinsi lain, namun mahkota itu mampu diraih kembali oleh Zivanna Letisha Siregar yang merupakan perwakilan Jakarta setahun silam.

Namun, pada malam grand final Pemilihan Puteri Indonesia 2009 di Teater Tanah Airku Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu (10/10) dini hari, Qory Sandioriva berhasil merebut mahkota kemenangan dari dua lawan terberatnya, yakni Zukhriatul Hafizah (Sumatera Barat) dan Isti Ayu Pratiwi (Maluku Utara).

Saya yang hanya membaca berita, tanpa menonton acara yang juga diselenggarakan secara langsung oleh salah satu televisi swasta merasa bangga dan kagum atas apa yang diraih putri berdarah Gayo tersebut. Namun, kebanggaan itu lenyap ketika tahu sang Putri tidak mengenakan busana muslim seperti yang dilakukan pendahulunya yang juga ikut dalam pemilihan Putri Indonesia tersebut.



 
REPRO KABARINDO
Memang, pakaian merupakan sebuah pilihan setiap peserta. Akan tetapi, setiap peserta adalah perwakilan daerahnya dan membawa nama besar provinsi yang diwakilinya. Seperti Aceh yang kini telah menerapkan syariat Islam, maka kontestan yang mewakili Aceh harusnya berpakaian yang syar’i dan mencerminkan budaya Aceh. Hal ini berdasarkan peraturan daerah (qanun) NAD No.11 tahun 2002 mewajibkan para wanitanya berjilbab. Namun, kali ini Qory menanggalkannya demi ajang tahunan ini. Ini artinya, dia menanggalkan Aceh yang diakuinya sebagai daerah asal.

Ada satu hal yang membuat saya tercengang ketika membaca perihal kemenangan mahasiswi semester 1 Universitas Indonesia mengambil jurusan Sastra Perancis ini. Ia mengakui telah meminta izin dari Pemerintahan Aceh terkait dengan penampilannya yang tak menggunakan jilbab demi Pemilihan Putri Indonesia.

Lantas, patutkah Aceh yang sedang giat-giatnya menerapkan syariat Islam mengirimkan wakilnya untuk ikut serta dalam ajang yang memamerkan keindahan tubuh itu? Atau Syariat Islam kini hanya isapan jempol belaka dan pemikiran liberal telah merajalela dengan asumsi seperti yang dipaparkan Qory yang dikutip dari waspada online , “Yang saya ketahui dari agama Islam adalah, kepribadian yang luhur yang juga ditentukan dari brain (otak) dan behavior (prilaku), artinya, saya tidak harus memakai jilbab, tapi saya tetap harus menunjukkan kepribadian luhur di dalam Islam tersebut, jadi yang saya jilbabi adalah hati dan kepribadian saya.”



Namun, protes apapun tidak ada gunanya lagi. Kini, putri pasangan Dicky Jatmika Ustama dan Hj. Fariyawati telah menjadi sang Putri yang mewakili Tanah Rencong ini untuk setahun ke depan. Namun saya berharap semoga saja keinginannya untuk mengharumkan dan mengenalkan budaya Aceh kepada masyarakat Indonesia bisa terlaksana tanpa membuang marwah bangsa Aceh yang kental dengan nilai-nilai Islami.Semoga.

sumber foto : repro kabarindo


dimuat di www.acehinstitute.org

32 komentar:

  1. mudah2an pertamax.....

    BalasHapus
  2. haaaaa..putri aceh ikut memamerkan tubuhnya...ckckckkckc..na'udzubillah

    BalasHapus
  3. ternyata kemenangan Qory telah menuai kontroversi.

    BalasHapus
  4. @dasir : iya, kamu pertamax dasir... bukan hanya putri Aceh dasir yang memamerkan tubuhnya, tapi semua...tapi karena dia berasal dari Aceh yang kini sedang menjalankan syariat Islam saja makanya jadi begini..

    @bang setiawan : hehhe, kemarin liza baca di catatan facebooknya bang setiawan lho infonya :)

    BalasHapus
  5. Hai, salam kenal.
    Tapi kok ada kabarnya gubernur aceh tidak mengakui qory sebagai perwakilan aceh ya..

    BalasHapus
  6. di luar aceh, aceh terkenal dengan ganjanya dan serambi mekahnya. jarang sekali orang tau tentang keindahan sungai2 tangse, keunikan taman laut sabang, dan kekokohan lauser. kalau beberapa mengenal tentang budaya aceh, biasanya hanya sampai pada tarian dan beberapa adat istiadatnya saja. memang adat istiadat berubah seiring waktu seperti tanah toraja, tapi untuk aceh saya rasa ciri khasnya dari dulu sampai sekarang sama, hampir tidak ada yang berubah secara drastis, tanpa harus aceh menang dalam kontes ini pun aceh masi terus mempromosikan ciri khasnya.
    niat baik qory untuk mempromosikan aceh hendaknya kita dukung, karena akan memberikan efek positif kepada seluruh masyarakat aceh, asalkan qory menjalankan aturan-aturan yang sudah ada baik yang tertulis maupun tidak.

    BalasHapus
  7. yah... mau gimana lagi kak... saya aja heran, kok bisa puteri aceh, yang membawa nama aceh, tidak mencerminkan seperti layaknya puteri2 aceh lainnya...

    Mungkin kalau dia minder kali kak ya pakek jilbab, soalnya lawan2'a pada g pake jilbab semua...

    BalasHapus
  8. selalu kontroversi dan tiada henti ya setiap kali ada PPI... hmmm, gimana solusinya ini. salam kenal mbak

    BalasHapus
  9. mungkin Qory Sandioriva menang karena namanya yang kebule-bulean, biar bisa menang miss universe kali

    BalasHapus
  10. padahal tahun-tahun sebelumnya, saya selalu bangga melihat perwakilan aceh yang konsisten dengan jilbabnya. saya tercengang sekali waktu melihat si Qori ini gak pake jilbab. sayang sekali...
    menanggalkan jilbab demi berbikini-ria di ajang miss universe nanti.

    BalasHapus
  11. @krisna : salam kenal juga.. entahlah kris, kalo gubernur ngga mengakui, pastinya Qory ngga bisa menyatakan dirinya sebagai perwakilan Aceh

    @kakek : entahlah kek

    @belajar sendiri : hehehhe mungkin aja ya dek

    @antown : solusinya adalah ajanga seperti ini dihilangkan saja... walaupun katanya yang dinilai adalah 3B, tapi kenyataannya ngga seperti itu kan? kalo ngga salah pada zaman suharto PPI pernah dilarang ya? sempat beberapa tahun ngga ada ajang ini

    @bayqun : mungkin aja bro :)

    @elsa : bukan menanggalkan mbak, tapi ngga berjilbab sama sekali...

    BalasHapus
  12. wah ketinggalan berita ni sy, abis ga suka juga liat yang begitu

    Ko bertolak belakang dengan syariat Islam yang sedang digalakan di Aceh ya

    BalasHapus
  13. Hmmm, kalo buat saya sih hal tersebut gak perlu dibesar2'kan...
    Toh ia sudah membawa harum nama provisinya...
    Lagian orang memakai jilbab kan bukan harus dengan paksaan :)

    BalasHapus
  14. yang pasti sih katanya Wagub gak setuju en memprotes pernyataan Qory..

    BalasHapus
  15. dari dulu sampai sekarang, saya memang tak pernah tertarik acara ini dan sejenisnya, jadinya ya tak tau apa² tentang ini.

    tapi paling tidak, masyarakat dan pemerintah daerah NAD bisa memetik pelajaran dari kejadian ini, untuk mengambil anstisipasi pada ajang-ajang selanjutnya, yg dijamin saya juga tetap tak tertarik.
    :)

    BalasHapus
  16. @irvan : liza juga taunya setelah baca berita, but i dont know lah :)

    @zippy : iya sih zip, tapi kalau kita lihat dari tujuan dari acara ini adalah untuk memperkenalkan budaya provinsinya kemudian negaranya ke khalayak ramai, nah kalo ini?

    @kai : ohya bang kai? thanks for info

    @pakacil : iya pakacil, itu bukan tontonan yang baik :)

    BalasHapus
  17. Numpang komen ya :)...memang sangat disayangkan sekali bila terjadi seperti itu ya...begitulah manusia tak ada yang sempurna...yang penting sekarang bagaimana kita mengambil hikmahnya, agar minimal hal itu tidak terjadi lagi...:)

    BalasHapus
  18. kakek "ompong"10/14/2009 1:05 PM

    bener tu pakacil, dari dulu di keritik tetap aja g berubah. budeg, buta atoe apa ya....heran banget

    BalasHapus
  19. Hi follow me back and baca2 artikel terbaru ku..jangan lupa comment ya.. http://adarossyat.blogspot.com/2009/10/nikmati-perbedaan.html

    BalasHapus
  20. @aulawy : iya aulawi.. semoga semua ini menjadi pelajaran bagi kita semua
    @kakek ompong : no comment
    @rossy : iya mbak rossy, segera meluncur

    BalasHapus
  21. IBLIS, Kalai ini engkau berhasil menggoda Hamba Allah yang tadinya taat menutup auratnya utk taat kepada_NYA, sekrang kau goda dia dengan HARTA dan POPULARITAS, dan engkau berhasil wahai Iblis LaknatuLLAH.
    Setelah dia, siapa lagi yang akan engkau jerumuskan kedalam kesesatanmu wahai Iblis !

    Aku berlindung dari yang demikian...
    *Sesungguhnya Iblis adalah musuh kita yang paling NYATA !

    Salam ....

    BalasHapus
  22. Iya benar,saya malah baru tauberitanya,ternyata pemenangnya dari aceh,
    kalo seperti itu bisa juga di bilang tidak mengakui orang aceh ya?
    kalo sudah meminta izin pada pemerintah aceh, apa ya diizinkan ya?

    BalasHapus
  23. berjilbab atau tidak adalah pilihan manusianya, agama tak memaksa, walau kalau mau mengaku Islam, yg wajib tetaplah wajib, gak akan berubah.
    tapi jangan mencari pembenaran hanya untuk kepentingan pribadi, untuk memenangkan kontes, yg menurtuku utama adalah pamer keindahan tubuh..lalu mengapa takut berjilbab kalau yg dinilai adalah 'beauty' yg bukan cuma tubuh?

    aku gak salut sama dia Liza, maafkan...

    BalasHapus
  24. @aribicara : hmmm, sering banget si iblis menang dari kita ya mas,,, tapi cukup untuk kali itu saja, tak akan terulang untuk selanjutnya

    @pasang iklan : ya begitulah

    @meiy : uni, liza juga sama uni. dia telah mencoreng nama baik Aceh

    BalasHapus
  25. "..... saya tidak harus memakai jilbab, tapi saya tetap harus menunjukkan kepribadian luhur di dalam Islam tersebut, jadi yang saya jilbabi adalah hati dan kepribadian saya.”

    *apakah dia merasa lebih pintar/lebih tahu dr Allah SWT...???
    hmmm...miris membacanya...

    demi populrtas dan kekayaan, agama pun digadaikan...Naudzubillah min dzalik...

    BalasHapus
  26. Wow tulisannya masuk majalah yah

    BalasHapus
  27. ternyata daya tarik popularitas telah mengaburkan banyak hati ya, liza. memang sungguh disayangkan. tapi betul, protes juga tidak berguna. yang perlu diantisipasi adalah keterlibatan putri indonesia ini dalam ajang pemilihan miss universe tahun depan. akankah terjadi? bayangkan saja polemik yang bakal muncul nanti.

    BalasHapus
  28. mansur binnuruijami10/18/2009 11:43 AM

    mantap Qori- sukses dan lebih mantap buat Liza!

    BalasHapus
  29. semoga putri aceh jadi no1 seantero jagat amien...
    hehehe hidup Liza sebagai the next putri indonesia!!!

    BalasHapus
  30. Setuju, pemilihan Putri Indonesia seharusnya tidak lagi hanya terfokus pada kecantikan lahiriah dan kecantikan intelektual, tapi juga kecantikan perilaku yang akan membuat perempuan Indonesia lebih bermartabat, terhormat dan dihargai. Sekaligus menjadi inspirasi dan menumbuhkan harapan akan masa depan perempuan Indonesia yang tangguh dan berkepribadian sesuai dengan nilai – nilai yang kita anut.

    Namun, alangkah lebih bijaksana jika kita tidak melihat dari satu sudut pandang tertentu saja. Bagaimanapun juga, seharusnya kita tetap mendukung Qory sebagai wakil putra-putri bangsa yang terpilih, untuk menjalankan suatu misi yang mulia bagi Indonesia. Saya rasa tujuan pemilihan Puteri Indonesia sekarang sudah melenceng dari tujuan utamanya, tapi..Semoga Qory mampu memperkenalkan budaya dan tradisi bangsa Indonesia kepada dunia luar, mengangkat nama dan potensi pariwisata Indonesia supaya lebih dikenal di dunia internasional.
    Iklan Baris Gratis

    BalasHapus
  31. biarkan dia dengan dirinya...

    lama2 syariat jadi bahan obrolan yg politis ya hehe

    BalasHapus
  32. Qori...Qori....enteng banget kamu yah ngomong

    BalasHapus