Kamis, 14 April 2016

Mamak, Sang Konsumen Cerdas dan Inspirasiku Saat Berbelanja

Yuk Menjadi Konsumen Cerdas

Mamak, begitu saya memanggil wanita yang telah melahirkanku. Ia adalah inspirasi hidupku termasuk saat berbelanja. Meski hanya lulusan sekolah dasar (SD) mamak ada seorang yang sangat teliti dalam membeli. Ia tidak akan membeli barang-barang yang tidak jelas isinya, yang tidak ada deskripsi pada kemasannya, dan mamak tidak pernah membeli barang-barang yang tidak perlu. Dulu, saya sering bertanya alasan kenapa ia begitu irit ketika berbelanja, apakah karena sejak kami kecil ia telah menjadi orang tua tunggal yang harus menghidupi saya dan adik?  Ternyata apa yang saya pikirkan tidak sepenuhnya salah, selain harus benar-benar telaten dalam menggunakan anggaran, mamak juga orang yang tidak mau membeli barang hanya karena alasan lapar mata.


Pernah suatu hari saya membeli produk kecantikan dari sebuah toko online. Katanya sih dari Korea dan kalau memakai produk tersebut jerawat di wajah  bisa hilang dan cantik seperti artis Korea. Kebetulan hari itu mamak berkunjung ke kontrakan saya dan melihat krem yang bertengger di atas meja rias. Karena penasaran, mamak mengambil krem tersebut dan membacanya. Ketika melihat huruf-huruf di kemasan krem itu, dahi mamak yang sudah berkerut semakit menciut.

“Krem apa ini, Nak? Kok aneh kali tulisannya.” tanyanya kemudian.

“Krem Korea, Mak. Pemutih. Lihat nih mukakku kusam kali.”

“Tapi kok enggak ada penjelasan dalam bahasa Indonesia ya? Emang tahu apa aja isinya?”

Saya hanya menggeleng saat mamak bertanya demikian. Melihatku yang merasa sah-sah saja mengenakan produk yang menurut mamak tidak jelas itu, beliau langsung menceritakan apa yang beliau tonton di televisi.

“Jangan sembarangan beli produk apalagi kita enggak tahu isinya apa. Bisa-bisa isinya ekstrak binatang yang diharamkan agama. Mending cari aman aja, beli produk yang ada Bahasa Indonesianya, yang ada SNI, udah diperiksa Badan POM, dan lebih bagus lagi produk dalam negeri. Coba kalau kenapa-kenapa dengan wajah kamu? Mau nuntut siapa? Kemarin mamak nonton tv ada perempuan muda yang mukanya bengkak gara-gara pake produk enggak jelas itu.”

Saya hanya diam saja mendengar penjelasan mamak. Apa yang dikatakan mamak ada benarnya, saya tertarik untuk membeli produk pemutih wajah itu karena terpesona akan kecantikan model yang dipasang pada profil toko online itu. Apalagi ketika melihat wajah sebelum dan sesudah model tersebut serta testimoni dari pembeli lain.

Ketika mamak menyebutkan kata SNI, saya pun penasaran dengan Standar Nasiona Indonesia yang ditetapkan oleh  Badan Standarisasi Nasional itu. Logo SNI sering saya temukan pada produk minuman, mainan anak-anak, dan pupuk. Terbesit tanya di pikiran, apakah semua produk wajib memiliki SNI? Saya pun menanyakan hal ini pada mamak tapi beliau tidak tahu.

"Masak anak sekolahan nanya ini pada emak-emak. Yang sekolah siapa? Yang baca buku siapa?" canda mamak.

Saya pun akhirnya memilih bertanya langsung pada Google sehingga saya pun mendarat di link http://ditjenpktn.kemendag.go.id milik Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (DJPKTN) Kementrian Perdagangan. Di sana saya mendapatkan informasi bahwa aturan tentang SNI dimuat dalam Peraturan Pemerintah No. 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional (PP No. 102 Tahun 2000). SNI tidak diwajibkan pada semua barang. Berdasarkan Pasal 12 ayat (2) PP 102/2000, SNI bersifat sukarela untuk ditetapkan oleh pelaku usaha. Akan tetapi, dalam hal SNI berkaitan dengan kepentingan, keselamatan, keamanan, kesehatan, masyarakat atau pelestarian fungsi lingkungan hidup dan/ataupertimbangan ekonomis, instansi teknis dapat memberlakukan secara wajib sebagian atau seluruh spesifikasi teknis dan atau parameter dalam SNI (Pasal 12 ayat [3] PP 102/2000).

Jadi, pada dasarnya tidak semua barang atau jasa wajib SNI. Biasanya SNI wajib diberlakukan pada hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan keselamatan, keamanan, kesehatan masyarakat atau pelestarian fungsi lingkungan hidup dan atau pertimbangan ekonomis.

 Contoh beberapa barang yang wajib SNI antara lain:  (sumber : hukumonline.com)

  1. Mainan anak-anak. Mainan yang dimaksud adalah setiap produk atau material yang dirancang atau dengan jelas diperuntukkan penggunaannya oleh anak dengan usia 14 (empat belas) tahun ke bawah untuk bermain dengan penggunaan yang normal maupun kemungkinan penggunaan yang tidak wajar sesuai dengan kebiasaan seorang anak,
  2. Ban
  3. Semen
  4. Pupuk anorganik tunggal
  5. Air minum dalam kemasan
  6. Helm


Kembali ke berbelanja ala mamak. Seperti yang saya sampaikan tadi, mamak memang orang yang sangat teliti. Ketika kami berbelanja di supermarket, ia selalu membaca komposisi makanan yang kami beli dan tanggal kadaluarsanya. Membeli roti tawar saja,  mamak selalu mewanti-wanti untuk melihat kapan roti itu sudah tidak dapat dikonsumsi lagi. 

“Kalau enggak ditulis tanggal expired-nya, tanya ke penjual kapan roti itu diproduksi dan apakah bisa dikembalikan kalau besok roti tersebut berjamur? Kalau mereka bilang tidak bisa dikembalikan, beli yang jelas-jelas saja.”

Pendidikan mamak memang jauh lebih rendah dari saya yang telah menjadi sarjana, tetapi ia tidak mau dibodohi oleh apapun termasuk ketika membeli barang elektronik. Terkadang saya merasa mamak terlalu berlebihan saat berbelanja, misalnya ia tidak pernah lupa memastikan bagaimana garansi produk yang ia beli, ia juga sangat jeli melihat kartu garansi dan itu harus dalam bahasa Indonesia.

“Mamak mana bisa bahasa Inggris? Enggak mau mamak beli kalau enggak ada penjelasan dalam bahasa Indonesia. Walaupun barang luar negeri, kalau udah masuk ke negara kita, pasti sudah diperiksa dan dibuat penjelasan dalam bahasa Indonesia. Kalau belum, bisa jadi itu barang selundupan.”

Aku tertawa mendengar ucapan mamak. Ketika kutanya darimana ia tahu semua itu, jawabnya dari televisi. Ternyata mamak tidak hanya menonton sinetron tetapi juga awas dengan informasi berguna yang ada di dalam televisi.

Selain teliti ketika membeli, mamak juga pecinta produk Indonesia sejati. Kalau ada dua barang yang sama, yang satu produk luar negeri, dan satunya lagi produk Indonesia, maka ia akan langsung memilih buatan negeri sendiri. Tas misalnya, ia enggak mau ikut-ikutan teman-temannya yang lebih memilih tas bermerek luar negeri tetapi imitasi.

“Untuk apa? Mau gaya-gayaan padahal tas KW? Mending pake tas motif Aceh yang udah jelas asli produksi orang Aceh dan udah pernah masuk acara Oprah, dipake selebritis Holywood.”

Wow! Aku hanya ternganga mengetahui kalau mamak tahu kalau tas Aceh pernah menjadi topik pembahasan pada acara reality show Oprah.

Kebanggaan mamak terhadap produk dalam negeri semakin meningkat ketika suamiku menceritakan pengalamannya membeli sepatu. Suamiku saat itu sedang melanjutkan studi di Jerman dan ia membeli sebuah sepatu di toko online terkemuka di dunia. Setiap membeli sesuatu, si Abang jarang memperhatikan merk produk tersebut, baginya komposisi barang lebih penting dibandingkan merk termasuk saat membeli sepatu. Kala itu, ia melihat sepatu sport yang sesuai dengan yang ia sukai. Langsung saja ia membeli sepatu tersebut. Beberapa hari kemudian, barang yang ditunggu pun tiba. Alangkah terkejutnya suami saya ketika membaca tulisan made in Bandung, Indonesia. Spontan ia tertawa ketika membaca tulisan itu, “jauh-jauh ke Jerman, belinya barang Indonesia juga.” katanya.

Mamak yang ikut mendengar cerita menantunya pun ikut tertawa, “Makanya, jangan sepelekan produksi Indonesia. Cintailah produk-produk Indonesia,” ucapnya meniru sebuah iklan barang elektronik di televisi.

Mamak, mamak. Kalau bergaul dengannya, orang-orang tidak menyangkan kalau ia hanya lulusan SD. Banyak yang berpikir kalau beliau adalah seorang sarjana dan pekerja kantoran. Tidak ada yang menyangka kalau ia adalah seoarang ibu rumah tangga. Meskipun belum bisa sepenuhnya mengikuti cara mamak menjadi konsumen cerdas, tetapi darinya saya belajar banyak hal dan cara beliau berbelanja selalu menjadi inspirasiku.

Tulisan ini diikutsertakan dalam "DJPKTN Lomba Karya Tulis Blog 2016" 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar