Rabu, 28 Januari 2009

Aku Bangga Jadi Orang Indonesia


Ya, aku sangat bangga dilahirkan di negeri yang konon katanya Gemah Ripah Loh Jinawi ini. Kenapa mesti malu coba? Bukankah hubbul watani minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman) ?

Pak H. Rosihan Anwar, seorang wartawan nasional pernah mengungkapkan dalam puisinya betapa ia tidak malu menjadi orang Indonesia.

Aku tidak malu jadi orang Indonesia ... Biar orang bilang apa saja, biar, biar ... Indonesia negara paling korup di dunia Indonesia negara gagal Indonesia negara lemah Indonesia melanggar HAM Elite Indonesia serakah harta dan kekuasaan Presiden-presiden Indonesia dilecehkan humoris
Biar saja orang-orang menghujat Negara Indonesia ini dengan berbagai hujatan, dijuluki dengan bebagai julukan.Terserah! “Kalau kamu benci dengan negeri ini, kenapa tidak angkat kaki saja? Kenapa tetap saja mengais rezeki dan mempertahankan hidup di negeri yang kamu benci ini? Kenapa tetap menggunakan Bahasa Indonesia? Tetap memakai fasilitas Negara?” Kata-kata itu sangat layak diucapkan untuk mereka yang ngakunya “benci” dengan Indonesia.

Aku sangat bangga bertanah airkan Indonesia. Karena di dunia ini hanyalah Indonesia yang bernama Indonesia, berbahasa Indonesia, memiliki ribuan pulau, berbagai macam suku, sumber daya alam yang melimpah ruah, dan merupakan negara tropis.

Aku bangga menjadi rakyat Indonesia. Rakyat dari sebuah negara yang kaya raya, yang memiliki total penduduk seratus juta lebih, yang hampir setiap tahunnya dilanda bencana. Bayangkan saja kalau Indonesia tidak terdapat banyak bencana, maka pusat penelitian bencana akan berpindah ke negara-negara lain. Eitss,. Bukan bermaksud senang dengan bencana di negara ini. Dari pada bersusah, mending kita mengambil hikmahnya sambil terus membenah diri. Betul ngga?

Namun, di balik kebanggaanku aku merasa miris dengan sikap teman-temanku yang mengaku sebagai “RAKYAT” Indonesia juga. Tak jarang makian terus saja terlontar untuk negeri ini. Sangat beragam. Pantaskah Indonesia mendapatkan semua itu? Seandainya negaraku berwujud seorang ibu, maka matanya pasti kering karena tak ada lagi air mata yang bisa keluar. Telah kering air itu.

Coba kita telaah lebih lanjut. Indonesiakah yang salah? Saya rasa kalau Anda menjawab “Ya”, maka Anda salah besar! Indonesia hanya sebuah Negara, bukan manusia. Jadi yang salah adalah kita semua. Ya, kita semua yang masih berwujud manusia dan hidup di tanah air Indonesia.
Kenapa?

Kita bisa saja berdalih kalau kita hanyalah rakyat kecil yang menjadi korban para penguasa. Siapakah yang memilih penguasa? Kita juga kan? Kita-rakyat Indonesia.

“Wah, ngga fair itu. Saya ngga tahu menahu dengan semua itu. Saya hanya korban.” Lantas kenapa ngga mau mencari tahu? Kenapa hanya ikut-ikutan? Dan mau-maunya dikorbankan? Berapa abad kita sudah dijajah Belanda ditambah beberapa tahun oleh Jepang? Nah sekarang kan sudah merdeka, kenapa tetap mau dijajah.

Kita hanya bisa berdalih, menyalahkan orang lain, mengkritik, tapi tidak mau memberikan solusi.

Korupsi merajalela, kenapa? Karena kita telah menganggapnya hal yang biasa. Sogok-menyogok juga biasa. Semua dianggap biasa. “Sudahlah, biar urusannya cepat selesai,” dalih kita.
Nah, kalau hal itu tidak diberantas dan tetap menjadikannya sebagai hal yang biasa. Maka siapa yang salah?

Kritik boleh-boleh saja. Tapi negeri ini bukanlah miliknya para penguasa saja. Bukan milik para pejabat. Bukan hanya milik segelintir orang. Tapi, kita yang mengaku jadi rakyat Indonesialah pemiliknya. Jadi, jangan hanya mengkritik! Tapi berikanlah solusinya. Jangan hanya mengharap, tapi terjunlah bersama-sama membangun negeri ini.

Jadi jangan malu dengan keadaan negeri kita, tapi merasa malulah pada diri sendiri dan malu kepada Tuhan, serta malulah berkumpul bersama-sama dengan orang yang tidak mengerti arti hidup, orang yang tidak bisa menerima hidup ini dengan iklas, malulah berkumpul dengan orang-orang Indonesia yang tidak dapat jujur pada dirinya sendiri, suka bohong, menipu, maling (apapun bentuknya, lebih-lebih maling berdasi), yang harus Anda malu adalah jika Anda berkumpul bersama dengan para pejabat negara, dan para selebriti yang senang berfoya-foya, yang memiliki gaya hidup gengsi yang tinggi.

Mari kita lihat Negara Ethiopia dan negara miskin kerontang lainya. Atlet mereka tidak malu untuk terus berlari membawa bendera negaranya merebut emas marathon turun temurun. Mengapa kita musti ngomong malu tapi tidak bergerak dan hanya menjadi penonton atau komentator yg memalukan sambil memajang foto diri. Orang malu kan mustinya gak mau keliatan wajahnya.

Akan tetapi, saya yakin, ditengah bobroknya kondisi bangsa, masih banyak orang-orang yang sangat mencintai negeri ini. Orang-orang yang senantiasa saling menjaga dalam kebaikan masih ada, dan akan terus bertambah. Orang-orang yang yang mau bangkit dan bergerak, serta bisa menjadi solusi.

Mereka tidaklah seperti air yang menggenang, yang hanya diam saja dan menjadi sarang penyakit. Mereka adalah air yang mengalir, air yang bermanfaat bagi sekitarnya. Dan tentu saja mereka bukanlah orang-orang yang berkerumun tidak beraturan.

34 komentar:

  1. mulut bilang benci tapi hati mereka sebenarnya sangat mencintai indonesia..

    BalasHapus
  2. mari kita membaca diri di lembaran-lembaran peta hati. bangsa tiada artinya tanpa kita. kitalah penentu masa depan bangsa..

    CEMANGADH!!!

    Ehm, salam kenal yaa... :)
    Trimakasih udh berkenan mampir ke gubuk reyot saya...

    BalasHapus
  3. @ ijal : bisa jadi jal..banyak yang munafik

    @ rabindra : bener banget fathur,..kitalah yang membangun bangasa ini. sama2,.terimaksih juga udah berkunjung kembali

    BalasHapus
  4. beberapa orang sulit untuk menahan diri agar tidak menjelek2 kan tanah air, kalau dipikir apa untungnya ? mungkin harus bertanya pada diri sendiri dulu apa yg telah kita lakukan utk negeri ini ? sebelum menjelek-jelekkannya
    aku memang tinggal di luar tanah air, tapi membandingkan Indonesia dengan negeri suamiku rasanya nggak fair, apalagi menjelek2kannya, nggak punya hak aku

    BalasHapus
  5. asalamualaikum, kenalilah diri kita sendiri sebelum mengritik orang. dan cintailah diri kita sendiri walaupun tak ada yang mencintai. kita merasa bangga menjadi diri kita sendiri dari pada memakai topeng dan bungkusan yg terasa asing, walaupun badai datang menerjang, indonesia tetap akan jaya. maju terus pantang mundur. Salam super dari safriadi alias bang ismu

    BalasHapus
  6. Nasionalis banget dirimu Liza..
    Heee,

    Oya, aku rasa semua manusia Indonesia cinta tanah airnya. Aku sepakat dengan si Ijal, walaupun benci tetapi hati mereka tetap mencintai Indonesia.

    Kalau ada saudara-saudara kita yang suka mengkritik sistem negaranya, mungkin itu suatu bentuk kecintaanny terhadap Indonesia.

    Setiap kita punya berbagai cara dan punya berbagai posisi untuk mereakskan kecintaan terhadap tanah air yang hampir terkubur ini. Dan aku rasa itu menjadi kewajiban kita.

    Saleum..

    BalasHapus
  7. Bangga donk...Harus dan selamanya harus bangga,..

    meskipun saya sangat mencita citakan untuk bisa kuliah di Jepeng tapi itu semata mata hanya untuk menimba ilmu yang bermanfaat bagi negeri ini..

    Semoga tercapai...

    Salam...

    BalasHapus
  8. meski saya juga masih pakai henfon buatan luar negeri, saya tetap cinta Indonesia. dan kutak peduli bila kubenar-benar cinta mati sama Indonesia.

    BalasHapus
  9. meski saya juga masih pakai henfon buatan luar negeri, saya tetap cinta Indonesia. dan kutak peduli bila kubenar-benar cinta mati sama Indonesia.

    BalasHapus
  10. @ mbak ely : sebenarnya kalo membandingkan untuk merefleksi dan merubah bangsa kita menurut saya sah2 saja,..asalkan kita tidak membanding2kan untuk menjelek2an negeri ini...

    @anonim : sebenarnya ngga masalah sih mau mengkritik or ngga.. kalau menurut liza boleh2 aja mengkritik, toh dg kritikan kita bisa mengetahui dimana letak kelemahan dan kekurangan kita. tapi, jangan bisanya hanya mengkritik. lakukanlah sesuatu yang bisa berguna untuk negeri ini.

    @ muhajir : nasionalis? bener bgt,..jadi ingat kata-kata Pak Amir, guru PPKN waktu SMA dulu. nasionalisme adalah suatu paham yang meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi.Namun kita tidak boleh menganut nasionalisme dalam arti sempit,.. gitu deh

    @ bocahbncar : ngga masalah kalo mau nuntut ilmu ke negeri orang. malah saya rasa lebih bagus, karena negara2 maju seperi Jepang dan Amerika memiliki sistem pendidikan yang lebih bagus dari negara kita. yang penting, kalau udah dinegeri orang jangan lupakan tanah airmu. jangan jadikan alasan gaji yang minim, kurang dihargai, fasilitas yang tidak memadai, menjadikan kita lebih senang hidup di luar negeri. Mungkin ini PR khususnya untuk pemerintah kita agar lebih menghargai dan memparhatikan potensi anak negri

    BalasHapus
  11. aku setuju!
    sebaiknya kerjakan satu hal kecil untuk negeri ini daripada cuma demo n kritik.

    comment di blogq juga ya...

    BalasHapus
  12. @ CERPENKITA : maunyyaaaa,..ok deh aku kunjungi blogmu dan kukomentari

    BalasHapus
  13. bukan munafik za..mereka cuma ingin negeri ini lebih baik..
    jikalau sbagian dari mereka cuma bisa mengkritik, mgkn memang itu peran yg bisa mereka jalankan

    BalasHapus
  14. waduh....
    dalemmmmmmmmm bener omongan kakak2 yg ada disini...

    mudah2an Istqomah

    BalasHapus
  15. @ ijal : mungkin aja,..

    @ zigan : thanks ya,..amien, semoga kita tetap istiqamah

    BalasHapus
  16. a nice posting, saya suka membaca tulisan Liza ini, ternyata Liza nasionalis banget, saya ikut bangga...:) Iya, betul, mungkin niat mereka baik kok cuma caranya aja yang belum tepat. Terkadang banyak orang yg bisanya hanya mengkritik, tapi mereka lupa, kritik aja tidak akan optimal tanpa ada solusi dan implementasi. Berbuat sesuatu meski itu kecil akan lebih bermanfaat daripada sekedar mengkritik.

    Saya doain Liza tetap istiqomah sebagai muslimah yang nasionalis dan progresif. Insya Allah saya akan selalu mendukung Liza.

    BalasHapus
  17. MAKASIH banyak mas adnan.. semoga kita tetap istiqamah dan memberikan yang terbaik untuk negeri ini

    BalasHapus
  18. Abang?AKU ORANG INDONESIA....
    Banyak cara kok mengisi pembangunan ini.
    Ayo, semangat, Indonesia di Tangan kita.
    Jangan lupa sukseskan Visit Piyoh 2009 ya..(promosi) tetep..hahaha, uhuk..uhuk..

    BalasHapus
  19. Barangkali mereka sebenarnya cinta juga dengan negeri ini...masalahnya mungkin mereka merasa prihatin atau tidak bisa menerima keadaan yang terjadi di negeri ini...kita berdoa saja..semoga ke depannya..keadaan negeri kita tambah baik....salam kenal......

    BalasHapus
  20. aku merasa asing di indonesia
    asing untuk sebuah keadilan

    aku merasa aman di indonesa
    aman untuk sebuah penindasan

    aku merasa sejahtera di indonesia
    sejahtera untuk nilai kemiskinan

    aku merasa kaya di indonesia
    kaya untuk sebait kata korupsi

    ingin aku ketawa
    ingin aku memuji
    ingin aku mencela

    indonesia, engkau negara hukum...

    engkau berhak mencela mereka
    engkau berhak menghakimi mereka
    engkau berhak mencela dan menghakimi aku

    BalasHapus
  21. memupuk nasionalisme
    salut,

    salam kenal
    http://firman.web.id

    BalasHapus
  22. hmm, kadang kita terlalu munafik untuk mengakui bahwa kita ini terlahir dan besar di Indonesia. Budaya Indonesia yang lebih cocok buat kita, kadang dianggap ketinggalan jaman...

    BalasHapus
  23. indonesia, tempat para koruptor mendapatkan uangnya....

    BalasHapus
  24. @kakang hijrah : yups bang,..btw, visit piyoh 2009 itu tentang apa bg? gimana mau bantu mempromosikan, liza aja ngga tau konsep acaranya bagaimana

    @ esha : amien, semoga negara kita mnejadi lebih baik ke depannya...

    @jufrizal : seprtinya liza pernah baca puisi itu,..tapi dimana yaa???

    @anto84 : merdeka juga

    @firman zone : salam kenal juga

    @keluarga kicot : bener bgt,..

    @ilham maulana : meskipun demikian, aku lahir dinegeri ini, besar dan menemopuh hari-hariku di dalamnya,..aku cinta negeri ini

    @PUTRAGO : salam kenal juga

    BalasHapus
  25. "Aku bangga menjadi rakyat Indonesia. Rakyat dari sebuah negara yang kaya raya, yang memiliki total penduduk seratus juta lebih, yang hampir setiap tahunnya dilanda bencana"
    awal kalimat enak banget, tapi akhir2nya bikin nyengir :D hehe

    BalasHapus
  26. @ ar eros : Biasa aja lagii :P

    BalasHapus
  27. Jangan sekedar bangga jadi "Indonesian"
    Buktikan! Kalian pasti bisa.
    Biar tidak ada yang mengatakan,"Talk less, Do more!"

    BalasHapus
  28. Maaf, Salam kenalnya ketinggalan. Merdeka.....!

    BalasHapus
  29. @ RCO : salam kenal juga

    BalasHapus
  30. yach, bener banget... mba aq salut ama postingannya.... :terharu: :)

    BalasHapus
  31. Kebanggaan yang disertai perasaan miris?

    Jika dipositifkan, didalamnya penuh rasa cinta pada objeknya, yakni Indonesia.

    Ini sebuah expresi yang mendalam dan menarik. Ga banyak anak muda sekarang yang berani membanggakan diri sebagai bagian dari sebuah nergeri besar seperti Indonesia. Banyak yang takut berfikir besar dan terus terusan bersembunyi dibalik ide bangsa lain. Mereka menyukai dan memilih bersikap kerdil.

    Buat yang punya blog, thanks sudah menulis ini. Bagus Banget.

    BalasHapus
  32. @dewy azura : makasih dewi

    @ arif noviyanto : ya, mencoba berpikiran postif terhadap negeri ini walaupun hati terkadang miris.. thanks juga udah berkunjung

    BalasHapus