Kamis, 13 Agustus 2009

Aku Menjadi Tersangka

Huff… Akhirnya ngeposting juga. Lama tidak ngeblog membuatku berada diatas puncak kerinduan yang sangat mendalam dengan rumah keduaku ini. Banyak hal sebenarnya yang ingin kuceritakan. Mulai dari acara MTQ Mahasiswa Tingkat Nasional XI yang kuikuti sepekan yang lalu sampai beberapa pengalaman lain yang ingin kubagi-bagi dengan teman-teman yang dengan setia mengikuti blogku.

Tapi ada satu hal yang ingin sekali kuluapkan di sini. Dan apakah itu? Hiks, AKU MENJADI TERSANGKA (hwaaaaaaaaaaaa)

Kenapa, why, limaza, aku bisa menjadi orang yang disangka? Pastinya disangka membuat kejahatan seperti Nurdin M.Top yang sangat menghebohkan itu tentunya. Apa pun itu, dan siapa pun itu yang namanya tersangka tetaplah tersangka meski kasusnya ngga sama parah. Kenapa aku menjadi tersangka?

Rasanya aku ingin tertawa saja jika mengingat kejadian Rabu (12/08/09) sore itu. Hari ketika aku membawa adikku yang jatuh dari motornya ke dokter ortopedi. Mungkin ini yang disebut naas. Tepat di persimpangan Jambo Tape, aku yang tanpa melihat rambu lalu lintas yang melarang belok kiri dengan tanpa rasa bersalah langsung saja melintas di belokan yang di trotoarnya terdapat polisi lalu lintas yang dengan arogannya berdiri.

“Stop,” ucapnya tanpa ba bi bu dan menghampiriku.

Aku yang tanpa rasa bersalah mengikuti saja ucapannya.
“Kenapa Pak?”

“Kamu tidak lihat rambu-rambu di larang belok?”

Ya Allah, apakah aku telah melanggar peraturan? Pantas saja tidak ada satu kendaraanpun yang berbelok ke arah yang sama denganku. Ingin ku tertawa saja saat itu. Tapi aku ingat di depanku adalah polisi-polisi angkuh dengan pakaian dinasnya.

“Ya sudah, cepat Pak!” suaraku mulai meninggi, ”Saya harus membawa adik saya ke rumah sakit.”Pikiranku saat itu tertuju pada adik semata wayangku yang telah dulu pergi bersama temannya.

“Ibu sibuk, saya juga sibuk, motor ibu harus kami tilang” jawab polisi itu dengan gugup.

“Kalo sama-sama sibuk jangan banyak ceramah. Ya udah, kalo kamu mau nilang, silakan! Saya tinggalkan motor saya di sini. Kamu ngga bisa rasain gimana kalo adik kamu sedang sakit apa?” segera kukeluarkan SIM, STNK, dan kunci motor.

“Eits Bu, tunggu dulu,” aku melihat ada rona ketakutan di wajah laki-laki yang sempat kulihatnya namannya berinisial E. Saat itu aku ingin tertawa, ngga nyangka bisa marah-marah.

“Ibu mau bayar 95 ribu dan urusan Ibu tuntas, atau saya kasih surat tilang biar diproses di pengadilan?” tawarnya.

“Kamu pikir saya mau bayar kamu? Serahkan aja surat tilangnya. Biar saya urus di pengadilan.”

Aku terus memandang surat tilang itu tanpa berkedip. Di dalamnya tertulis kalau aku menjadi tarsangka pelanggaran lalu lintas dan akan disidangkan tanggal 09-09-09, benar-benar tanggal, bulan, dan tahun yang serasi, tapi tidak untukku.

2 komentar:

  1. salut2.... pak polnya jd atut ama liza.....

    gak kebayang wajah polisinya, gemeteran xixixixixi.....

    BalasHapus
  2. SALAM KENAL YA DENGAN ORANG ACEH...

    BalasHapus