Jumat, 06 November 2009
Senin, 24 Agustus 2009
Hiduplah Indonesia Raya
Tanpa terasa Indonesia telah berumur 64 tahun pada hari Senin tanggal 17 Agustus 2009 lalu. Enam puluh empat tahun kalau diumpamakan seorang wanita, maka ia telah menjadi seorang nenek. Usianya telah senja. Dengan tubuh ringkih dan rapuh, ia tak dapat berbuat banyak untuk menopang hidupnya. Wanita itu telah tua. Berbagai jenis penyakit geriatric (orang tua)pun seperti hipertensi, penyakit jantung, mata yang semakin rabun, bahkan pikun telah menggerogoti jiwanya.
Kamis, 13 Agustus 2009
Aku Menjadi Tersangka
Tapi ada satu hal yang ingin sekali kuluapkan di sini. Dan apakah itu? Hiks, AKU MENJADI TERSANGKA (hwaaaaaaaaaaaa)
Jumat, 10 Juli 2009
What's wrong dengan Diriku?
Selasa, 30 Juni 2009
Mahasiswa Kampungan. Hohoho
Selasa, 23 Juni 2009
DJA Itu Apa Ya???
Jadi, tanpa memanjangkan mukaddimah. Langsung saja dengerin aku berpidato ya bapak-bapak ibu-ibu siapa yang punya anak tolong aku kasihani aku.. eitss, kok udah kagak nyambung gini. Come on!!! Focus Liza! Pertama-tama dan yang paling utama marilah sama-sama kita panjatkan puji dan syukur kita kehadirat Allah Swt.
“Stop! Katanya ngga pake mukaddimah lagi.”
Sedikit lagi, dan kepada baginda Nabi Muhammad Saw. Udah!!!
Wah, aku jadi teringat masa-masa SMP dulu. setiap malam Jum’at ada acara muhadharah alias public speaking di sekolahku. Ya pastinya ngga jauh-jauh dari dunia perpidatoan. Maklum aja, dulu aku pernah mondok di pesantren Dayah Jeumala Amal selama tiga tahun sebelum terdampar di SMA Modal Bangsa dan FK Unsyiah. Jadi sisa-sisa perjuangan masa lalu sangat membekas diotak tumpulku
Berbicara tentang pesantren, ada beberapa hal yang sangat unik dan jarang dijumpai di tempat-tempat yang lain. Mulai dari nama pesantren itu sendiri sampai murid dan guru-gurunya.
Ok, sekarang aku mulai dengan keanehan sang pondok
DJA, begitu kami memendekkan nama ponpes. Ya, selain dayah jeumala amal, DJA memiliki banyak kepanjangan yang lain. Seperti DAERAH JARANG AIR. Why kenapa bisa seperti itu? ya karena di dayah itu sangat sulit mendapatkan air. Kalo musim kemarau, bersiap-siaplah mangantri panjang dengan lima ratus santriwati di sumur yang sangat kecil untuk sekedar mendapatkan air untuk wudhu atau buang air kecil. Harus bangun pagi-pagi biar ngga telat shalat subuh di mushalla. Nah, kalo air di bak mandi atau pun di sumur sudah tak ada lagi (emang pernah? Ya iyalah), siap-siaplah dirimu menuju sungai di belakang pondok yang harus ditempuh dengan melompati pagar.Selain itu, DJA juga menjadi DAERAH JAJAHAN ANJING. Anjing-anjing dari berbagai pelosok negeri (hah? Masa sih) berkumpul di sini. Setiap paginya para santri yang piket harus menyamak tempat-tempat yang di datangi Si Aan itu. mungkin karena banyak makanan ya, makanya si Aan betah amit ke sana. Sampai-sampai dibuat pasukan khusus untuk memerangi Aans (jamak untuk aan ). Bukan hanya anjing, kucing pun cukup meraja lela di negeri itu. kucing yang ngga sopan itu kerap BAB di atas kasur santri. Tak jarang kalo setiap pulang dari sekolah terdengar teriakan “Laaa, firasyi… qitton bakhil,” (tidak, kasurku. Duh kucing bodoh!!) dari setiap sudut ketika menaiki ranjangnya yang telah terdapat sepotong kue hadiah mas kucing
Keanehan selanjutnya adalah KERASUKAN. Yupz, ada mitos-mitos tersendiri mengenai kerasukan ini. Konon menurut isu-isu dari seniorku, ada waktu-waktu tertentu si makhluk ghaib itu merasuki tubuh manusia. “biasanya tiga tahun sekali ukh, dan tahun kalian jatahnya,” tutur seniorku. Hah? Itu artinya akan ada santri yang kerasukan pada tahun-tahun keberadaanku di DJA.
Awalnya aku sempat ngga percaya, tapi melihat teman-temanku satu per satu roboh dan dirasuki makhluk halus itu, tak ada kata mustahil lagi. Bayangkan saja, saban harinya ada puluhan santri yang kerasukan. Ketika diinterogasi, ada yang mengaku dari Jawa, Medan, Cina, Jepang. Duh ada-ada saja. memang, kalo pondok pesantren itu kerap menjadi sasaran. Apalagi kalo kondisi kita sedang labil dan hipotensi.
Udah ah, ngga mau lagi ngebahas tentang kerasukan. Jadi merinding sendiri saya.
Kamis, 14 Mei 2009
KEGETIRAN SEORANG HAFIZH
Ujung Pancu, nama daerah tempat ia berada sekarang. Sebuah perkampungan penduduk yang terletak di Peukan Bada Aceh Besar. Kampung itu memiliki kenangan sendiri di benak anak laki-laki yang bernama Muhammad Hafizh Rihanda.
“Dulu saya sering bermain di pinggir pantai bersama teman-teman sepulang sekolah. Bermain bola, mencari kepiting. Banyak pokoknya.”
Putra dari pasangan Muhand Abdullah dan Ida Yulianti ini seolah memutar kembali memorinya ke saat-saat di mana ia berada di perkampungan nelayan itu. Sebuah senyuman tergurat dari bibirnya.
Namun, beberapa menit kemudian wajahnya menjadi murung. Matanya yang mulai mengeluarkan butiran bening kembali menatap laut. “Sekarang semua itu tidak ada lagi,” ucapnya terbata.
Pantai yang indah Ujung Pancu kini telah tenggelam oleh permukaan air laut yang semakin naik akibat tsunami. Rimbunan Pinus mercusi yang dulunya menghiasi bibir pantai tumbang dihanyutkan gelombang.
“Pagi itu saya sedang mengangkut air untuk membantu mak yang sedang mencuci,” ungkap bocah hitam manis itu, “Terus tiba-tiba gempa. Kuat sekali gempanya. Karena takut kena reruntuhan rumah saya langsung keluar. Mak mengambil dek Adha yang waktu itu masih bayi.”
Hafizh mencoba mengingat-ingat kembali hal-hal yang dialaminya pada hari yang menjadi catatan sejarah penting dalam buku agenda dunia. “Waktu keluar rumah, saya melihat semua orang kampung telah berkumpul di depan rumah masing-masing. Kami melihat air laut tiba-tiba surut ratusan meter. Ikan-ikannya kelihatan semua. Ada yang mengambil ikan itu, ada juga yang melihat saja.”
Hafizh berhenti sejenak, kemudian melanjutkan ceritanya. “Tapi, tiba-tiba gelombang laut datang lagi, tinggi sekali. Setinggi pohon kelapa. Orang-orang kampung berlarian ke bukit.”
Hafizh yang saat itu masih berumur lima tahun juga digendong ayahnya menaiki bukit. Begitu pula dengan ibu dan adiknya yang masih bayi.
Dia yang sangat ketakutan hingga menangis tersedu-sedu. Tidak hanya Hafizh yang merasa takut, seluruh penduduk kampung pun demikian. “Ada yang berdoa, menangis, macam-macam pokoknya. Kami semua ketakutan seolah-seolah mau mati.”
Selama di bukit, lelaki kecil itu harus berpuas dengan mengunyah dedaunan dan meminum air payau untuk mengisi perutnya. Ia sadar, di saat genting seperti itu pasti tidak ada nasi dan lauk pauk lezat seperti yang sering dihidangkan ibunya. Beras yang telah bercampur dengan air asin pun menjadi begitu nikmat kala itu. Ketakutan telah melenyapkan lapar dan dahaga mereka.
“Adik sempat sakit waktu di bukit karena kekurangan makanan,”cerita Hafizh tentang keadaan adik laki-lakinya yang bernama M. Adha Zaifullah yang waktu itu masih berumur satu tahun.
Namun setelah dua hari tiga malam Hafizh dan seluruh penduduk kampung berada di bukit, mereka memutuskan untuk turun dan menuju perkampungan terdekat untuk mencari perlindungan dan makanan. Akhirnya mereka pun tiba di Simpang Dodik yang letaknya tiga kilometer dari Ujung Pancu. Setiba di sana mereka sadar kalau bukan hanya Ujung Pancu yang menjadi sasaran amukan tsunami, tetapi seluruh Banda Aceh mengalaminya. Kemudian mereka di tempatkan di pengungsian yang terletak di Kecamatan Lampeuneurut.
“Tidak enak di pengungsian. Kalau malam banyak nyamuk, dan kalau hujan, banjir. Saya dan ayah sering tidak tidur kalau malam karena harus jaga-jaga biar air tidak masuk ke dalam tenda,”tutur Hafizh. “Waktu di barak Siron Lambaro, sudah enak. Tempatnya lebih bagus dibanding waktu di tenda.”
Wajah polos Hafizh tidak bisa menyembunyikan betapa merananya tinggal di pengungsian. Hidup dengan segala keterbatasan. Namun, anak kedua Muhand Abdullah ini tetap bersyukur karena ia masih bisa melanjutkan sekolah dan tetap berkumpul bersama kedua orangtua dan adiknya. “Tapi,” guratan riang lenyap tiba-tiba. “Kak Feby tidak selamat.”
Feby Putri Handayani, kakak yang sangat disayang Hafizh menjadi salah satu korban amukan gelombang tsunami yang sangat dahsyat itu. “Kak Feby tinggal di Blang Oi bersama nenek. Semua keluarga di sana tidak ada yang selamat.”
Akan tetapi, Hafizh sadar semua itu adalah kehendak Allah dan ia harus menerimanya. Setelah dua tahun lebih tinggal di barak, Hafizh bersama orang tuanya memilih tinggal di Blang Oi, di rumah nenek Hafizh yang tidak berpenghuni lagi. Ia tidak tinggal lagi di Ujung Pancu, tapi sesekali ia tidak lupa untuk sekadar mampir dan mengunjungi rumahnya yang dulu serta bermain bersama teman-temannya.
Sekarang, Hafizh telah duduk di kelas tiga SD Blang Oi. Bencana tsunami memberikan kenangan tersendiri baginya. Perasaan trauma yang dialaminya ketika melihat laut pun hilang seiring berjalannya waktu. Kesedihan karena ditinggal pergi sang kakak pun memudar hari demi hari. Ia yakin Allah Maha Adil. Dan sekarang Sang Maha Adil itu telah memberikan pengganti kakaknya dengan seorang adik perempuan yang sangat lucu. “Mulina Putri Handayani, namanya,” seru Hafizh sambil tersenyum ceria.
Ujung Pancu, Mei 2009
sumber gambar : http://picasaweb.google.com/lh/photo/fSO2pAG2enZQNG9Gx9zc4w
Senin, 06 April 2009
Liza = Lazy ???
Mungkin julukan seorang dosenku terhadap nama yang kusandang ada benarnya. Liza, Laiza, Lizzy, dan yang terakhir adalah LAZY. Huaaaaaaa…
Apakah aku benar-benar ditakdirkan menjadi seorang pemalas? Dari namaku saja ada unsur kemalasannya. Lazy? Haruskah kuganti nama yang telah kusandang selama dua pulu satu tahun ini?
Malas..
Ya, aku benar-benar malas hari itu.
Tak ada niatku untuk menghilangkan malas itu karena aku memang sedang malas.
Jangan dipelihara malasmu itu, Liza! Kata hatiku
Tapi aku malas membuangnya
Malas,.
Bahkan untuk beranjak untuk makan punaku enggan
Perutku sudah kenyang dengan kemalasanku
Apa lagi jalan-jalan keluar
Untuk sekadar keluar kamar saja
Kupaksakan diri yang telah dilumuri rasa malas
Aku benar-benar dipuncak kemalasanku
Bahan-bahan kuliah hanya kubiarkan tregeletak begitu saja
Memang, hari-hariku yang dulu sering dirundung malas
Namun, puncaknya hari itu
Kenapa tidak kau tulis saja kemalasanmu, Liza
Duh! Jangankan untuk menulis
Memikirkan isi tulisanku saja aku malas
Apalagi mengambil buku dan pena
Atau menghidupkan laptopku
Malas banget rasanya
Aku benar-benar malas
Dan aku menikmati kemalasanku
Kenapa aku bisa malas?
Ah, malas aku menjawabnya
Jumat, 27 Maret 2009
What A Cute Baby
“ Info Gen X : Asslmkm. Berita bahagia. Alhmdulillah Lydia dah melahirkan semalam jam 8 di Seulanga. Anaknya cowok. Bagi yang mau besuk, qt ngumpul didpn MU cafĂ©.”
WHAT? Lydia udah melahirkan? Duh senang banget diri ini waktu ngebaca pesan singkat itu. My roommate waktu di Mosa dulu udah punya momongan. Duh anaknya pasti cakep kayak mama-papanya.
Ngga terasa banget, udah hampir tiga tahun ninggalin bangku SMA. Dan sekarang seorang teman yang sekamar dan juga sekelas denganku udah membentuk sebuah keluarga yang semakin komplit dengan hadirnya sang bayi.
Liza kapan ya? Kapan-kapan deh! (Belum terpikirkan,..kabooorrrr)
Hari Jumat sore, kami langsung janjian untuk ngumpul di tempat yang udah di sepakati.
“Ce, Jet nebeng ya!” pintaku pada Icut, teman SMAku dulu. Ce & Jet, panggilan kesayangan kita berdua. (Haiyaaa)
And then, kita pun segera menuju rumah target (emang tersangka, bah!). Di perjalanan, aku dan Icut keasyikan tertawa. Ngebayangin kalau apa yang dilakukan ibu kami dulu, sekarang kami lakukan.
“ Dulu kan Jet, setiap ada teman mama Ce yang melahirkan, mama selalu bilang “Mama mau nengok adek bayi dulu ya!” ucapnya dengan semangat, “dan sekarang kita ya Jet yang jenguk adek bayi. Anaknya teman kita.”
Aku hanya mengangguk dan tertawa membayangkan apa yang kami lakukan layaknya ibu-ibu. “Kita udah tua ya Ce! Oh, tidak! Ijet masih kecil,”timpaku kemudian.
Karena keasyikan ngobrol, kita ketinggalan dari teman-teman lain. Walhasil, bayangin aja apa yang terjadi jika kita ngga tau alamat rumah yang dituju? Yupz, apalagi kalau bukan KESASAR.
Huh, cape deh. Hampir aja ngga jadi jenguk adik bayinya. Namun, setelah nanya kesana kemari dapat juga rumah yang dituju.
Terenggggg…. Tanpa mempedulikan teman-teman yang lain, aku menerobos masuk ke kamar Lydia. Aku kan teman sekamarnya selama tiga tahun dan yang paling dekat dengannya (sok merasa lu!). Dan di sana sudah tergeletak sebuah boneka, eits salah! Adik bayi sedang tertidur pulas di dalam kelambunya. “Selamat ya Bu!” ucapku sambil cipika-cipiki (kebiasaan mak-mak).
Kemudian kami cerita-cerita banyak hal. Aku dan Icut masih di sana walaupun teman-teman yang lain sudah pamit duluan. Melihat makhluk yang belum terjamah dosa itu memang sangat mengasyikkan. Ngga bosan-bosan. Ditambah lagi dengan cerita nenek dan ibunya Lydia yang memang telah akrab denganku.(Halah...)
The Last, Cuma mau ngucapin SELAMAT YA ibu tiri! (julukan khusus untuk Lydia waktu di Mosa dulu). Semoga kelak dia menjadi anak yang shaleh dan menjadi kebanggaan ayah-ibunya. Amiin.
Kamis, 05 Maret 2009
Menikmati Kebosananku
Ngeblog adalah hobiku disela-sela padatnya jadwal kuliah dan kerjaku. Menuliskan berbagai unek-unek di kepala yang pastinya tidak berhubungan dengan mata kuliah dan berita ekonomi yang setiap hari mengisi waktuku. Ada kepuasan tersendiri ketika sebuah tulisan berhasil kutulis. Memang benar apa yang dituliskan oleh seorang psikolog (namanya siapa ya? lupa) dalam buku Quantum Writing tentang dahsyatnya menulis. Menulis masalah/unek-unek yang ada di pikiran membuat kita lebih tenang dan baik untuk kesehatan. Bahkan penelitiannya membuktikan bahwa hampir semua mahasiswa yang menjadi objek penelitiannya mengaku lebih sehat dan segar setelah menuliskan segala hal yang membuatnya trauma.
Apalagi kalau banyak teman-teman yang ikut mengomentari tulisan kita tersebut, pasti jadi lebih senang untuk menulis.
Tapi beberapa hari yang lalu aku benar-benar tidak ingin menulis. Menulis blog tepatnya. Aku tidak perlu berasionalisasi untuk mencari seribu alasan yang bisa menjawab kenapa aku tidak menulis. Aku sedang bosan, itu saja. Dan aku ingin menikmati kebosananku. Nah lho, bingungkan??? Bosan kok dinikmati? Hehehe, susah juga menjelaskannya. Yang jelas aku benar-benar menikmati kebosananku dan membiarkannya menggerogoti jiwaku sampai akhirnya ia berpamitan sendiri dan aku kembali menulis. Seperti sekarang, aku menulis. Aku mencoba memposting kembali tulisanku di blog ini. Karena bosan sedang cuti sebentar untuk liburan.
Selasa, 03 Februari 2009
Mau Tau Kepribadianmu Seperti Apa?
So, bagaimana hasil test kepribadian kamu?Download Yukk!!
Rabu, 28 Januari 2009
Menyehatkan Bangsaku
Memalukan memang. Dua decade aku menjadi bagian dari negeri ini, tapi aku hanya numpang saja tanpa mampu balas saja. Kalau dihitung dalam detik, menit, dan jam sungguh tak sanggup kulakukan. Bukanlah sebuah alasan jika aku berdalih kalau aku tak lebih dari seekor semut di negeri ini. Wajar saja aku tidak bisa berbuat sesuatu. Aku sangat kecil di negeri yang sangat besar.
Sebuah alasan yang sangat tidak rasionalis, dan sangat kelihatan dibuat-buat.
Sering ketika menjawab soal-soal kewarganeraan tentang hal-hal apasaja yang dilakukan anak negeri untuk mengisi kemerdekaan bangsa ini, maka aku akan menjawab : Belajar dengan tekun dan menghargai jasa pahlawan. Sebuah jawaban yang memang telah terdikte dan termaktub dalam buku-buku. Itu saja. Tidak lebih. Dapat nilai bagus, sudah cukup.
Semakin beranjak dewasa, aku semakin sadar. Memang keberadaanku takkan bisa merobohkan benteng keterpurukan negeri ini. Tapi aku yakin, kedua tanganku mampu meringankan beban saudaraku yang memerlukannya. Ya, aku yakin itu.
Kita tidak perlu menjadi hebat dalam bertindak, tapi berbuatlah untuk menjadi hebat. Aku, yang mengecap ilmu kedokteran merasa yakin bisa memberikan sumbangsih yang besar untuk negeriku. Kemampuanku sebagai dokter nantinya bisa membantu meringankan angka kesakitan di negeri ini.
Sehat adalah dambaan setiap orang di seluruh pelosok dunia. Karena cara paling cepat masuk kubur adalah dengan mati. Cara paling cepat mati adalah dengan sakit-sakitan. Adalah fakta jika kebanyakan orang tidak ingin cepat mati. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bukan jika orang-orang rela menghabiskan seluruh hartanya biar tetap sehat?
Sehat bukan hanya merefleksikan prospek untuk hidup lebih lama, bahkan juga menjadi fondasi untuk hidup lebih produktif secara sosial maupun ekonomi. Jadi, bebas penyakit adalah syarat utama untuk hidup lebih maju. Maka wajar saja kalau di negara-negara maju, angka kematian sangat kecil. Bandingkan saja, dari 1000 kelahiran bayi di Indonesia, 33 diantaranya meninggal. Sementara Malaysia, tetangga kita, hanya 8 yang meninggal dari 1000 kelahiran (UNDP, 2003).
Kebutuhan akan sehat tidak hanya diperoleh dengan cara hidup sehat, tapi juga dengan adanya pelayanan kesehatan. Adalah tugas negara untuk membuat rakyatnya sehat dengan membuka akses kesehatan secara maksimal. Kesempatan untuk mendapat pelayanan kesehatan dipandang sebagai hak paling asasi dari rakyat. Maka tidak boleh tidak, pemerintah harus menyediakan rumah sakit, dokter, perawat, obat-obatan, perlengkapan serta pelayanan lainnya dengan mutu dan standar yang optimum.
Namun pada kenyataannya, pelayanan kesehatan di masyarakat kita masih jauh untuk dapat dikaatakan memadai, terlebih lagi jika hal itu telah menyangkut rakyat miskin, masyarakat yang justru mendominasi negeri ini. Tidak jarang kita melihat banyaknya kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah terutama menyangkut program-program yang ditawarkan pemerintah untuk memudahkan mereka dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.
Nah, dengan kemampuan yang kumiliki, ingin rasanya mengabdi untuk negeri ini. Bukan ingin, tapi aku harus mengabdi. Sekarang aku hanya seorang mahasiswa kedokteran yang sebentar lagi memasuki semester enam, semester delapan nantinya aku akan mengikuti kepanitraan klinik di rumah sakit, satu setengah tahun lagi aku akan menjadi dokter. Yeah, kalau diakumulasikan lebih kurang tiga tahun lagi aku resmi menjadi dr. Liza Fathiariani (amiiin, mudahkanlah jalanku ya Rabb!)
Kalau sekarang, aku belum bisa menerapkan ilmu yang kumiliki untuk masyarakat. Karena memang peraturannya seperti itu. Bisa-bisa aku dikeluarkan dari kampus jika ketahuan. Lantas, apa yang bisa kulakukan? Yupz, aku bisa mengabdi untuk negeriku dengan bersungguh-sungguh belajar, aku juga bisa menyuarakan aspirasi saudaraku dengan lidah dan penaku. Ya pasti bisa. Insyaallah.
Jika aku manjadi dokter nanti, ingin rasanya aku mengikuti jejak Patch Adams, seorang revolusioner sosial, DOKTER, badut, dan pria dengan segudang prestasi. Patch adalah pendiri Gesundheit! Institute, klinik pengobatan gratis di West Virginia ang telah merawat lebih dari 15.000 pasien (lengkapnya buka http://liza-fathia.blogspot.com/2009/01/dokter-atau-badut.html). Menjalankan profesiku tanpa harus membebankan saudaraku. Semoga engkau mengabulkannya ya Allah. Amien..
“The people that are trying to make this world worse are not taking a day off — how can I? — Light up the darkness.” (I Am Legend)
Kamis, 15 Januari 2009
AKU NGEFANS SAMA KAMU
1. Rasullullah Saw, tentunya yang karena jasa beliau yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata membuatku tak henti-hentinya memuji beliau.
2. Mamaku. Aku sangat mengagumi semangat yang selalu membara mama. Membuatku tak pernah putus asa, dan selalu ingin menjadi yang terbaik untuknya dan tak ingin mengecewakannya
3. Bapakku. Semangat yang ditularkannya untukku sampai sekarang masih membekas di diri ini. Membuatku tak lagi cengeng dalam menghadapi masalah dan menjadikan hidupku lebih hidup
4. Pak Anwar Affan, guru bahasa Indonesiaku ketika SMA. Semangatnya yang sangat tinggi untuk mengajari kami walaupun penyakit yang menggerogoti jiwanya semakin parah membuatnya pantas untuk kukagumi. Bahkan, aku urung untuk bolos sekolah kalau beliau yang ngajar.
5. dr. Kurnia F.Jamil. cerita-ceritanya tentang dunia kedokteran dan perjuangan hidupnya sampai menjadi seoarang dokter membuatku semakin yakin dengan keputusanku untuk menjadi seorang dokter.
6. Patch Adam, bukunya inspiratif banget untuk calon dokter sepertiku.
Nah, ini adalah segelintir orang-orang yang kukagumi. Pada intinya, aku akan dengan mudah mengagumi orang yang memiliki semangat tinggi dalam menjalani hidup ini. Pantang menyerah, tetap berusaha bangkit walaupun telah sering terjatuh. Mungkinkah kamu masuk dalam deretan orang yang aku kagumi?
Sabtu, 10 Januari 2009
Dokter Atau Badut???
Siang itu saya merasa kesal sendiri dengan pernyataan dosenku, “ Kita harus memanage waktu seefektif mungkin. Ketika cluenya sudah dapat, segera alihkan pembicaraan dengan pasien. Ingat, selain dia masih banyak pasien lain yang sedang antri di belakang.”jelasnya ketika memberikan instroduksi anamnesis psikiatrik kepada kami. Memang tidak ada yang salah dengan kata-katanya. Kalau kita hanya terfokus pada satu pasien, maka kita telah mengabaikan pasien yang lain. Jadi kesimpulannya adalah bagaimana caranya kita harus bisa meresepkan obat kepada semua pasien. That’s all. Lantas dimanakah hubungan terapeutik antara dokter dan pasien disini? Kalau sang dokter hanyalah penulis resep, bukan rekan, mitra, ataupun orang yang dianggap mampu memberikan solusi yang mantap?Sekarang dapat kita lihat betapa ilmu kedokteran telah berpindah dari tataran komunitas ke tataran perusahaan sehingga menjadi industri nomer wahid hampir di setiap negara. Padahal kita tahu bahwa perawatan kesehatan itu tidak bisa dijadikan sebuah industri. Bagaimana suami-istri, keluarga, kelompok, komunitas, negara, atau dunia bisa kuat kalau kesehatan atau kesejahteraan mereka bukan sebuah prioritas? Yang terjadi saat ini lebih menitikberatkan pada bisnis ketimbang pelayanan sehingga menyebabkan banyak kesulitan, biaya pengobatan yang tinggi, ataupun tuntutan malpraktik.
Kita, baik itu dokter atau pasien memiliki kesempatan yang lebih besar untuk dapat melalui saat-saat terburuk dalam hidup jika kita bersikap sebagai teman dekat dan saling menghormati. Hidup itu lebih besar dari penyakit, diagnosis, pengobatan atau mekanisme penyakit.
Berubah Menjadi Badut
Inilah yang dilakukan Patch Adams, seorang revolusioner sosial, DOKTER, badut, dan pria dengan segudang prestasi. Patch adalah pendiri Gesundheit! Institute, klinik pengobatan gratis di West Virginia ang telah merawat lebih dari 15.000 pasien. Patch melakukan pendekatan hubungan personal kepada pasien untuk membantu mereka sembuh, bukan semata pendekatan klinis yang diterapkan rumah sakit pada umumnya. Dia sering kali memakai hidung badut berwarna merah untuk menghibur anak-anak kecil yang sakit ataupun mengajak mereka yang gelisah berjalan-jalan menuruni perbukitan.
Sungguh perbuatan yang sangat mulia. Pertanyaannya, adakah klinik pengobatan gratis di tempat kita? yang tenaga medisnya dengan tulus melayani pasiennya 24 jam seperti di Gesundheit Institute? Seorang dokter yang berubah menjadi badut dan melakukan berbagai atraksi yang dilakukan badut umumnya agar pasiennya tersenyum dan tidak ketakutan?
Jujur, setelah membaca kisah inspiratifnya Patch Adams, seorang dokter eksentrik yang menyembuhkan dengan humor dan kebahagiaan. Aku seperti ingin menyelami dunia yang dilakukan Patch. Memang, aku tidak mungkin menjadi badut, tapi aku bisa menjadi apapun itu yang pada akhirnya dapat membuat pasienku merasakan kalau aku adalah sahabatnya.
Selasa, 23 Desember 2008
Mengpa Harus ngeBLOG???
Setiap orang pasti memiliki alasan tersendiri untuk membuat blog dan menjadi blogger. - Karena aku suka MENULIS
Ketika Kamu Bicara, kata-katamu hanya bergaung ke seberang ruangan atau di sepanjang koridor. Tapi ketika kamu menulis, kata-katamu bergaung sepanjang Jaman.
- Aku ingin berbagi
- Dan lain-lain.
Jumat, 05 Desember 2008
Demam Online : Chatting, Browsing, Oh,No!
Dan itulah yang kualami sekarang. Aku terserang virus internet yang membuatku demam untuk online setiap hari. Entah itu dari PC atau ponsel. Pokoknya online. Whereever n Whenever.. Oh no! Help me
Aku merasa virus itu udah menimbulkan penyakit kronis ditubuhku. Bukan lagi penyakit akut yang hanya menyerang kurang lebih 3 minggu. Penyakitku udah setahun lebih. Telah menjalar ke seluruh tubuhku. Mengalir melalui aliran darahku. Dari sentral sampai ke perifer.
Manifestasi klinisnya apa? Yup, aku online setiap hari. Tanganku ngga henti-hentinya menekan keyboard PC sampai toots hp. Makan, mandi, shalat, tidur, kuliah (kalo mata kuliahnya gk ngebosanin), saat itulah aku berhenti online.
Rasanya lirik lagunya Saykoji yang judulny Online menyindirku banget
~siang malamku selalu menatap layar terpaku untuk online online online online. Lihat friendster,facebook,myspace, youtube. Jari dan keyboard beradu,pasangin sambil berlagu. Aku online online. Namanya udah kecanduan internet. Mengapa aku oh why why~
liriknya banyak yg udah diseleksi ;p
kenapa denganku? Kenapa aku ngga bosan-bosannya online. Chatting di yahoomessenger, padahal orang yang ku chatkan sama saja. Duh! Virusnya benar-benar berbahaya. Dimana aku bisa mencari vaksinnya? Help me please.
Kenapa denganku? Tanya kenapa!
Minggu, 30 November 2008
UNTUK SAHABATKU, DIMANAPUN KAU BERADA
Maka aku akan bermohon padaNya ,
Apakah aku dapat membawa seorang sahabat?
Sahabat,
Bila usiamu sampai seratus tahun
Aku ingin hidup seratus tahun kurang satu hari
Jadi, aku tak kan merasa hidup tanpamu, di sisiku
Persahabatan sejati layaknya arti kesehatan :
Nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya
Sahabat sejati selalu akan bersama kita
Ketika kita merasa seisi dunia meninggalkan kita
Ayahku selalu berkata,
Bila kamu memiliki banyak sahabat sejati, maka kau
Akan memiliki kehidupan yang indah
Jika seluruh sahabatku
Melompat ke suatu jurang
Maka aku tak kan mengikuti mereka
Aku akan berada di dasar jurang untuk menangkap mereka
Sahabat,
Aku akan membimbingmu
Dan kau akan membimbingku
Begitu sebaliknya
Jangan kau berjalan di depanku
Aku tak dapat mengikutimu
Jangan kau berada di belakangku
Aku tak sanggup memimpinmu
Berjalanlah di sampingku, jadilah temanku
Aku ingin mnejadi teman yang mendengarkan
Apa yang kau katakana
Dan apa yang tak kau katakan
Karena seorang sahabat sejati adalah
Yang dapat mendengar lagu di dalam hatimu
Dan menyanyikan kembali
Tatkala kau lupa akan bait-baitnya.
Aku tak tahu siapa pengarang kata-kata indah ini. Tetapi semoga isinya bisa menggugah hati kita dan membuat kita semakin menyayangi sahabat sejati kita.
Jumat, 28 November 2008
FINALLY, DIA HARUS BERBARING DI RS
Pagi tadi,temanku memutuskan untuk memeriksa darahnya. Ia sangat was-was dengan penyakitnya yang 50% hampir kami ketahui. Kalau bukan tifus, pasti DbD. Sedangkan malaria masih jauh dari kemungkinan,terlebih lagi ketika melihat pola demamnya. Walhasih, hasil labnya menunjukkan kadar trombositnya menurun drastis ditambah leukositosis. Jelaslah kalo itu ulahnya virus yang dibawa nyamuk aedes aigypti. DbD.
Pagi hari, sebelum berangkat ke kampus, sambil menghidangkan segelas teh hangat untuknya aku berkata, "walaupun RS itu rumah kedua kita,tapi aku masih ogah kalau harus di opname. Mending dibawa pulang ke kampung aja." sebenarnya aku menunggu jawaban 'ya' keluar dari mulutnya. Untuk orang dengan ekonomi pas-pasan seperti kami, dirawat di Rumah sakit sama saja dengan musibah. Bayangkan saja, biaya rumah sakit mana ada yang murah? Ditambah lagi dengan biaya dokter dan perawat serta pemeriksaan penunjang lainnya seperti lab,usg,x-ray? Walaupun pada nantinya aku akan menjadi bagian dari rumah sakit itu, tapi aku akan berpikir dua kali untuk diopname. Begitu juga dengan temanku itu. Biasanya kami akan tertawa setelah membahas tentang itu.
Namun, kali ini jawabannya berbeda, "aku mau diopname, liz."
aku sedikit terkejut, tp jawabannya memang benar. Kalau memang dia menderita DbD, maka setiap hari darahnya harus diperiksa untuk melihat kadar trombositnya. Bayangkan saja, jika trombosit terus menurun,pake kapiler2 darah akan pecah dan mengakibatkan bintik2 merah pada kulit. Lebih parahnya bisa mengakibatkan muntah darah hingga kematian,.naudzubillah.
Aku yang masih sehat ini hanya bisa berdoa agar Allah memberkahi kesehatanku. Semoga Allah segera memberikan kesembuhan untuk temanku. Amiin
Sent from my phone using trutap
Rabu, 26 November 2008
Sakit juga sebuah nikmat
Malam ini, aku bermalam di rumah temanku yang sedang terbaring lemas tak berdaya. Dari hasil anamnesa yang kulakukan, aku mendiagnosis banding penyakitnya 1. Tifus, karena ia menderita demam tinggi dan juga gangguan pencernaan. 2. DBD, dan 3. MALARIA. Tapi untuk menegakkan diagnosa kerja,temanku itu harus melakukan pemeriksaan lab yg termasuk darah rutin di dalamnya. Aku berharap ia tdk terserang Dbd ataupun malaria. Di sela-sela menemaninya, aku pun berpikir. Ternyata sakit adalah sebuah nikmat yang harus kita syukuri,bukan hanya sebagai ujian ataupun cobaan. Bayangkan saja, berapa banyak dosa kita yg dihapuskan oleh Allah ketika sabar dalam menghadapi penyakit ini. Betapa sakit kian menyadarkan kita bahwa kita hanyalah makhluk lemah tak berdaya. Dan karena sakit, kita juga berbagi-bagi rezeki dengan dokter (udah ngawur nih :)).. Walaupun demikian, sehat tetaplah lebih baik dari sakit. Karena dengan nikmat sehat,kita dapat melakukan banyak hal sebagai bentuk rasa syukur kita pada Allah swt
Sent from my phone using trutap
Kamis, 17 Juli 2008
PUISI UNTUK MAMA
Puisi Untuk Mama
Mama,…
Aku ingin mempersembahkan sebuah puisi untukmu
Puisi cinta yang dulu sering kau terima dari papa
Tapi, kata-kataku tak seindah punya papa
Aku juga tak seromantis papa
Namun, kuingin mempersembahkan puisi ini untukmu mama
Aku tak tahu kata-kata apa yang harus kupilih untuk memulai
Bagaimana diksi yang pantas, aku pun bingung
Aku ingin mengumpamakanmu dengan berbagai majas yang dulu kerap papa utarakan padamu
Aku tidak bisa
Dan aku ingin mencoba
Mama,..
Kau bagaikan matahari
Yang selalu menerangi setiap ruang gelapku
Kau tetap tersenyum walaupun hujan mengaburkanmu
Walaupun malam menenggelamkanmu
Kau tetap menerangi hari-hariku
Karena engkau adalah matahariku
Mama,..
Kau menjadi inspirasi bagiku untuk terus bangkit
Kau menjadi pompa semangatku
Dan kau adalah hidupku
Aku tak tahu mama
Apa yang akan terjadi padaku
Jika Tuhan memisahkan kita
Mama,..
Aku ingin selalu bersamamu
Mendengar suaramu sepanjang waktu
Melihat senyum yang selalu terukir dari bibirmu
Aku sangat bersyukur pada Allah
Karena Dia telah melahirkanku dari rahimmu
Karena Dia telah menganugrahiku seorang mama sepertimu
Mama,..
Satu hal yang harus kau tahu
AKU AKAN SELALU MENCINTAIMU








