Kamis, 29 Oktober 2009
Jumat, 27 Maret 2009
What A Cute Baby
“ Info Gen X : Asslmkm. Berita bahagia. Alhmdulillah Lydia dah melahirkan semalam jam 8 di Seulanga. Anaknya cowok. Bagi yang mau besuk, qt ngumpul didpn MU cafĂ©.”
WHAT? Lydia udah melahirkan? Duh senang banget diri ini waktu ngebaca pesan singkat itu. My roommate waktu di Mosa dulu udah punya momongan. Duh anaknya pasti cakep kayak mama-papanya.
Ngga terasa banget, udah hampir tiga tahun ninggalin bangku SMA. Dan sekarang seorang teman yang sekamar dan juga sekelas denganku udah membentuk sebuah keluarga yang semakin komplit dengan hadirnya sang bayi.
Liza kapan ya? Kapan-kapan deh! (Belum terpikirkan,..kabooorrrr)
Hari Jumat sore, kami langsung janjian untuk ngumpul di tempat yang udah di sepakati.
“Ce, Jet nebeng ya!” pintaku pada Icut, teman SMAku dulu. Ce & Jet, panggilan kesayangan kita berdua. (Haiyaaa)
And then, kita pun segera menuju rumah target (emang tersangka, bah!). Di perjalanan, aku dan Icut keasyikan tertawa. Ngebayangin kalau apa yang dilakukan ibu kami dulu, sekarang kami lakukan.
“ Dulu kan Jet, setiap ada teman mama Ce yang melahirkan, mama selalu bilang “Mama mau nengok adek bayi dulu ya!” ucapnya dengan semangat, “dan sekarang kita ya Jet yang jenguk adek bayi. Anaknya teman kita.”
Aku hanya mengangguk dan tertawa membayangkan apa yang kami lakukan layaknya ibu-ibu. “Kita udah tua ya Ce! Oh, tidak! Ijet masih kecil,”timpaku kemudian.
Karena keasyikan ngobrol, kita ketinggalan dari teman-teman lain. Walhasil, bayangin aja apa yang terjadi jika kita ngga tau alamat rumah yang dituju? Yupz, apalagi kalau bukan KESASAR.
Huh, cape deh. Hampir aja ngga jadi jenguk adik bayinya. Namun, setelah nanya kesana kemari dapat juga rumah yang dituju.
Terenggggg…. Tanpa mempedulikan teman-teman yang lain, aku menerobos masuk ke kamar Lydia. Aku kan teman sekamarnya selama tiga tahun dan yang paling dekat dengannya (sok merasa lu!). Dan di sana sudah tergeletak sebuah boneka, eits salah! Adik bayi sedang tertidur pulas di dalam kelambunya. “Selamat ya Bu!” ucapku sambil cipika-cipiki (kebiasaan mak-mak).
Kemudian kami cerita-cerita banyak hal. Aku dan Icut masih di sana walaupun teman-teman yang lain sudah pamit duluan. Melihat makhluk yang belum terjamah dosa itu memang sangat mengasyikkan. Ngga bosan-bosan. Ditambah lagi dengan cerita nenek dan ibunya Lydia yang memang telah akrab denganku.(Halah...)
The Last, Cuma mau ngucapin SELAMAT YA ibu tiri! (julukan khusus untuk Lydia waktu di Mosa dulu). Semoga kelak dia menjadi anak yang shaleh dan menjadi kebanggaan ayah-ibunya. Amiin.
Rabu, 18 Maret 2009
Apa yang Kamu Lihat, Liza?
Dulu sebelum memasuki gerbang yang kini mengurungku, aku pernah beberapa kali bertemu dengan hawa, bahkan aku pernah sekali sangat dekat dengannya. Ya, ketika aku melepaskan kepergian ayahku untuk selamanya. Kemudian aku kembali bertemu dengannya ketika gelombang pasang tsunami menghapus bersih Serambi Mekahku. Aku melihatnya tersenyum ke arahku.
Sekarang, ia telah mengekori setiap jejak langkahku. Menghantuiku, menemaniku, bahkan menyeretku ke ruangan yang penuh dengan teman-temannya.
Hari itu benar-benar takkan kuhapus dalam memoriku. Hari ketika hawa memaksaku untuk memasuki ruangan putih yang dipenuhi dengan puluhan temannya. Bulu kudukku berdiri tegak, adrenalinku melonjak, membuat denyut nadiku semakin cepat. Teman-temannya tersenyum ke arahku. Dan itu sungguh membuatku tak dapat menahan rasa takutku.
Ingin aku berlari dari ruangan yang menurutku tak beda dari tempat berkumpulnya orang-orang yang sebentar lagi dicabut nyawanya oleh Izrail. Namun, lagi-lagi hawa menahan langkahku. Aku hanya bisa terpaku ketika ruangan itu telah berlumuran darah, dipenuhi oleh jeritan, penuh dengan kesedihan, dan menyesakkan.
“Cepat, resusitasi!” sebuah suara menggelegar memecah ruangan.
“Airwaynya clear!” teriak suara yang lain
“Breathing dan sirkulasi spontan!” tambah suara yang lain.
“Circulationnya juga normal. Dia udah stabil.” Suara-suara itu melemah.
Satu teman dari hawa kulihat berlari menjauhi suara-suara itu.
“Apa-apaan kalian?” sebuah bentakan menggema ditengah kesesakan ruangan itu. bentakan yang tiba-tiba masuk dan menarik perhatian.
“Masak kalian biarin ayahku tergeletak sendiri di radiology? Dia udah ngga bisa membalikkan badan lagi! Kencingnya juga ngga keluar! Kalau terjadi sesuatu kubunuh kau!” bentakan itu mengancam seorang lelaki jangkung berbaju putih.
Hawa kembali tersenyum.
“Awas-awas!” sebuah tandu memasuki ruangan itu. sebilah pisau telah menancap di perut orang yang ditandu. Darah terus mengalir dari tempat tusukan. Orang itu tidak sadar. Hawa lagi-lagi menyungging bibirnya. Tersenyum.
“Hai, Za!” aku hampir saja terjatuh ketika sebuah tepukan mendarat di bahuku. Reflek aku menoleh.
“Melamun aja kamu!”
Aku tidak melihat hawa-hawa itu lagi, tapi aku dapat merasakan kalau mereka masih setia memenuhi ruangan ini. Kini, mereka telah digantikan dengan sekelompok manusia berbaju putih yang juga telah memutuskan memasuki gerbang yang sama denganku.
“Udah selesai mengobservasi?” sebuah suara berat keluar dari barisan manusia berbaju putih itu.
“Udah, dok!” jawabku
“Apa yang kamu lihat, Liza?”
“ Hawa kematian,” jawabku cepat.
Rabu, 28 Januari 2009
Menyehatkan Bangsaku
Memalukan memang. Dua decade aku menjadi bagian dari negeri ini, tapi aku hanya numpang saja tanpa mampu balas saja. Kalau dihitung dalam detik, menit, dan jam sungguh tak sanggup kulakukan. Bukanlah sebuah alasan jika aku berdalih kalau aku tak lebih dari seekor semut di negeri ini. Wajar saja aku tidak bisa berbuat sesuatu. Aku sangat kecil di negeri yang sangat besar.
Sebuah alasan yang sangat tidak rasionalis, dan sangat kelihatan dibuat-buat.
Sering ketika menjawab soal-soal kewarganeraan tentang hal-hal apasaja yang dilakukan anak negeri untuk mengisi kemerdekaan bangsa ini, maka aku akan menjawab : Belajar dengan tekun dan menghargai jasa pahlawan. Sebuah jawaban yang memang telah terdikte dan termaktub dalam buku-buku. Itu saja. Tidak lebih. Dapat nilai bagus, sudah cukup.
Semakin beranjak dewasa, aku semakin sadar. Memang keberadaanku takkan bisa merobohkan benteng keterpurukan negeri ini. Tapi aku yakin, kedua tanganku mampu meringankan beban saudaraku yang memerlukannya. Ya, aku yakin itu.
Kita tidak perlu menjadi hebat dalam bertindak, tapi berbuatlah untuk menjadi hebat. Aku, yang mengecap ilmu kedokteran merasa yakin bisa memberikan sumbangsih yang besar untuk negeriku. Kemampuanku sebagai dokter nantinya bisa membantu meringankan angka kesakitan di negeri ini.
Sehat adalah dambaan setiap orang di seluruh pelosok dunia. Karena cara paling cepat masuk kubur adalah dengan mati. Cara paling cepat mati adalah dengan sakit-sakitan. Adalah fakta jika kebanyakan orang tidak ingin cepat mati. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bukan jika orang-orang rela menghabiskan seluruh hartanya biar tetap sehat?
Sehat bukan hanya merefleksikan prospek untuk hidup lebih lama, bahkan juga menjadi fondasi untuk hidup lebih produktif secara sosial maupun ekonomi. Jadi, bebas penyakit adalah syarat utama untuk hidup lebih maju. Maka wajar saja kalau di negara-negara maju, angka kematian sangat kecil. Bandingkan saja, dari 1000 kelahiran bayi di Indonesia, 33 diantaranya meninggal. Sementara Malaysia, tetangga kita, hanya 8 yang meninggal dari 1000 kelahiran (UNDP, 2003).
Kebutuhan akan sehat tidak hanya diperoleh dengan cara hidup sehat, tapi juga dengan adanya pelayanan kesehatan. Adalah tugas negara untuk membuat rakyatnya sehat dengan membuka akses kesehatan secara maksimal. Kesempatan untuk mendapat pelayanan kesehatan dipandang sebagai hak paling asasi dari rakyat. Maka tidak boleh tidak, pemerintah harus menyediakan rumah sakit, dokter, perawat, obat-obatan, perlengkapan serta pelayanan lainnya dengan mutu dan standar yang optimum.
Namun pada kenyataannya, pelayanan kesehatan di masyarakat kita masih jauh untuk dapat dikaatakan memadai, terlebih lagi jika hal itu telah menyangkut rakyat miskin, masyarakat yang justru mendominasi negeri ini. Tidak jarang kita melihat banyaknya kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah terutama menyangkut program-program yang ditawarkan pemerintah untuk memudahkan mereka dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.
Nah, dengan kemampuan yang kumiliki, ingin rasanya mengabdi untuk negeri ini. Bukan ingin, tapi aku harus mengabdi. Sekarang aku hanya seorang mahasiswa kedokteran yang sebentar lagi memasuki semester enam, semester delapan nantinya aku akan mengikuti kepanitraan klinik di rumah sakit, satu setengah tahun lagi aku akan menjadi dokter. Yeah, kalau diakumulasikan lebih kurang tiga tahun lagi aku resmi menjadi dr. Liza Fathiariani (amiiin, mudahkanlah jalanku ya Rabb!)
Kalau sekarang, aku belum bisa menerapkan ilmu yang kumiliki untuk masyarakat. Karena memang peraturannya seperti itu. Bisa-bisa aku dikeluarkan dari kampus jika ketahuan. Lantas, apa yang bisa kulakukan? Yupz, aku bisa mengabdi untuk negeriku dengan bersungguh-sungguh belajar, aku juga bisa menyuarakan aspirasi saudaraku dengan lidah dan penaku. Ya pasti bisa. Insyaallah.
Jika aku manjadi dokter nanti, ingin rasanya aku mengikuti jejak Patch Adams, seorang revolusioner sosial, DOKTER, badut, dan pria dengan segudang prestasi. Patch adalah pendiri Gesundheit! Institute, klinik pengobatan gratis di West Virginia ang telah merawat lebih dari 15.000 pasien (lengkapnya buka http://liza-fathia.blogspot.com/2009/01/dokter-atau-badut.html). Menjalankan profesiku tanpa harus membebankan saudaraku. Semoga engkau mengabulkannya ya Allah. Amien..
“The people that are trying to make this world worse are not taking a day off — how can I? — Light up the darkness.” (I Am Legend)
Kamis, 15 Januari 2009
Telat Lagi...
Sabtu, 10 Januari 2009
Dokter Atau Badut???
Siang itu saya merasa kesal sendiri dengan pernyataan dosenku, “ Kita harus memanage waktu seefektif mungkin. Ketika cluenya sudah dapat, segera alihkan pembicaraan dengan pasien. Ingat, selain dia masih banyak pasien lain yang sedang antri di belakang.”jelasnya ketika memberikan instroduksi anamnesis psikiatrik kepada kami. Memang tidak ada yang salah dengan kata-katanya. Kalau kita hanya terfokus pada satu pasien, maka kita telah mengabaikan pasien yang lain. Jadi kesimpulannya adalah bagaimana caranya kita harus bisa meresepkan obat kepada semua pasien. That’s all. Lantas dimanakah hubungan terapeutik antara dokter dan pasien disini? Kalau sang dokter hanyalah penulis resep, bukan rekan, mitra, ataupun orang yang dianggap mampu memberikan solusi yang mantap?Sekarang dapat kita lihat betapa ilmu kedokteran telah berpindah dari tataran komunitas ke tataran perusahaan sehingga menjadi industri nomer wahid hampir di setiap negara. Padahal kita tahu bahwa perawatan kesehatan itu tidak bisa dijadikan sebuah industri. Bagaimana suami-istri, keluarga, kelompok, komunitas, negara, atau dunia bisa kuat kalau kesehatan atau kesejahteraan mereka bukan sebuah prioritas? Yang terjadi saat ini lebih menitikberatkan pada bisnis ketimbang pelayanan sehingga menyebabkan banyak kesulitan, biaya pengobatan yang tinggi, ataupun tuntutan malpraktik.
Kita, baik itu dokter atau pasien memiliki kesempatan yang lebih besar untuk dapat melalui saat-saat terburuk dalam hidup jika kita bersikap sebagai teman dekat dan saling menghormati. Hidup itu lebih besar dari penyakit, diagnosis, pengobatan atau mekanisme penyakit.
Berubah Menjadi Badut
Inilah yang dilakukan Patch Adams, seorang revolusioner sosial, DOKTER, badut, dan pria dengan segudang prestasi. Patch adalah pendiri Gesundheit! Institute, klinik pengobatan gratis di West Virginia ang telah merawat lebih dari 15.000 pasien. Patch melakukan pendekatan hubungan personal kepada pasien untuk membantu mereka sembuh, bukan semata pendekatan klinis yang diterapkan rumah sakit pada umumnya. Dia sering kali memakai hidung badut berwarna merah untuk menghibur anak-anak kecil yang sakit ataupun mengajak mereka yang gelisah berjalan-jalan menuruni perbukitan.
Sungguh perbuatan yang sangat mulia. Pertanyaannya, adakah klinik pengobatan gratis di tempat kita? yang tenaga medisnya dengan tulus melayani pasiennya 24 jam seperti di Gesundheit Institute? Seorang dokter yang berubah menjadi badut dan melakukan berbagai atraksi yang dilakukan badut umumnya agar pasiennya tersenyum dan tidak ketakutan?
Jujur, setelah membaca kisah inspiratifnya Patch Adams, seorang dokter eksentrik yang menyembuhkan dengan humor dan kebahagiaan. Aku seperti ingin menyelami dunia yang dilakukan Patch. Memang, aku tidak mungkin menjadi badut, tapi aku bisa menjadi apapun itu yang pada akhirnya dapat membuat pasienku merasakan kalau aku adalah sahabatnya.
Jumat, 19 Desember 2008
MENYINGKAP RAHASIA SAINS TAHAJUD
Pada saat seseorang menggelar sajadah untuk menunaikan shalat tahajud, ia berada dalam kondisi layaknya orang yang melakukan meditasi dan relaksasi. Jika kita pernah mendengar lirik lagu Tombo Ati yang didendangkan budayawan kondang Emha Ainun Nadjib bersama kelompok musik Kiai Kanjeng, tahajud disebut sebagai salah satu pengobat hati. Sebab shalat sunah yang ditunaikan di keheningan malam itu, mengantarkan orang yang menunaikannya menjadi lebih dekat dengan Allah. Hati yang dekat dengan Tuhannya adalah hati yang damai.SUJUD BIKIN CERDAS
Sabtu, 13 Desember 2008
LOMBA PENULISAN ARTIKEL
Deadline : 26 Desember 2008
Kriteia Penulisan :
1. Peserta adalah Mahasiswa yang berdomisili di Nanggroe Aceh Darussalam
2. Tulisan berupa artikel populer (bisa dalam bentuk opini, essay, atau feature)
3. Tulisan Belum pernah dimuat dipublikasi dan tidak sedang mengikuti lomba lain
4. Tulisan tidak boleh mengandung SARA, dan harus berisi solusi terhadap permasalahan yang dianggkat
5. Tata cara penulisan : Menggunakan huruf Times News Roman, spasi 1,5, margin atas :3, bawah : 3, kiri : 4, dan kanan : 3. di atas kertas kwarto minimal 4 halaman
6. Tulisan dapat langsung dikirimkan ke Sekretariat Bem FK UNSYIAH, Darussalam Banda Aceh 23111, rangkap 3, dengan mencantumkan "LOMBA ARTIKEL" pada sudut kanan amplop paling telatb 26 Desember 2008
7. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 5 Januari 2009
Hadiah : Tropi + Sertifikat + Paket Hadiah (untuk juara 1, 2, 3)
keterangan lebih lanjut bisa ditanyakan langsung melalui blog ini atau melalui ke sekretariat BEM FK Unsyiah
Jumat, 21 November 2008
SLEEP PARALYSIS (KETINDIH)
KEJADIAN ini sering saya alami sejak zaman SMP, bahkan hingga sekarang (meski frekuensinya sudah sangat berkurang). Saat hendak bangun dari tidur atau baru saja terlelap, saya merasa seperti ditindih sesuatu. Ini membuat saya sulit bangun ataupun berteriak minta tolong.
Lalu, ada sedikit rasa dingin menjalar dari ujung kaki ke seluruh tubuh. Untuk bisa bangun, satu-satunya cara adalah menggerakkan ujung kaki, ujung tangan atau kepala sekencang-kencangnya hingga seluruh tubuh bisa digerakkan kembali.
Setelah itu, biasanya saya tidak berani tidur. Takut kesadaran saya hilang atau kejadian itu berulang lagi. Apalagi saat kejadian, saya seperti melihat sebuah bayangan di kegelapan.
Pernah saya saya bercerita tentang hal ini pada ibu saya. Beliau mengatakan saya mengalami tindihan. Dan menurut kepercayaan orang tua, yang menindih adalah makhluk halus. Ih, seram ya! Namun, logika saya berusaha mencari penjelasan ilmiah. Inilah hasilnya
Sleep Paralysis
Menurut medis, keadaan ketika orang akan tidur atau bangun tidur merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak disebut sleep paralysis alias tidur lumpuh (karena tubuh tak bisa bergerak dan serasa lumpuh). Hampir setiap orang pernah mengalaminya. Setidaknya sekali atau dua kali dalam hidupnya.
Sleep paralysis bisa terjadi pada siapa saja, lelaki atau perempuan. Dan usia rata-rata orang pertama kali mengalami gangguan tidur ini adalah 14-17 tahun. Sleep paralysis alias tindihan ini memang bisa berlangsung dalam hitungan detik hingga menit. Yang menarik, saat tindihan terjadi kita sering mengalami halusinasi, seperti melihat sosok atau bayangan hitam di sekitar tempat tidur. Tak heran, fenomena ini pun sering dikaitkan dengan hal mistis.
Di dunia Barat, fenomena tindihan sering disebut mimpi buruk inkubus atau old hag berdasarkan bentuk bayangan yang muncul. Ada juga yang merasa melihat agen rahasia asing atau alien. Sementara di beberapa lukisan abad pertengahan, tindihan digambarkan dengan sosok roh jahat menduduki dada seorang perempuan hingga ia ketakutan dan sulit bernapas.
Kurang Tidur
Menurut Al Cheyne, peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada, sleep paralysis, adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur di tahap rapid eye movement (REM).
Sebagai pengetahuan, berdasarkan gelombang otak, tidur terbagi dalam 4 tahapan. Tahapan itu adalah tahap tidur paling ringan (kita masih setengah sadar), tahap tidur yang lebih dalam, tidur paling dalam dan tahap REM. Pada tahap inilah mimpi terjadi.
Saat kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Jadi, dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu langsung melompat ke mimpi (REM).
Ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM tapi tubuh belum, di sinilah sleep paralysis terjadi. Kita merasa sangat sadar, tapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah lagi adanya halusinasi muncul sosok lain yang sebenarnya ini merupakan ciri khas dari mimpi.
Selain itu, sleep paralysis juga bisa disebabkan sesuatu yang tidak dapat dikontrol. Akibatnya, muncul stres dan terbawa ke dalam mimpi. Lingkungan kerja pun ikut berpengaruh. Misalnya, Anda bekerja dalam shift sehingga kekurangan tidur atau memiliki pola tidur yang tidak teratur.
Jangan Anggap Remeh
Meski biasa terjadi, gangguan tidur ini patut diwaspadai. Pasalnya, sleep paralysis bisa juga merupakan pertanda narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), sleep apnea (mendengkur), kecemasan, atau depresi.
Jika Anda sering mengalami gangguan tidur ini, sebaiknya buat catatan mengenai pola tidur selama beberapa minggu. Ini akan membantu Anda mengetahui penyebabnya. Lalu, atasi dengan menghindari pemicu. Bila tindihan diakibatkan terlalu lelah, coba lebih banyak beristirahat.
Kurang tidur pun tidak boleh dianggap remeh. Jika sudah menimbulkan sleep paralysis, kondisinya berarti sudah berat. Segera evaluasi diri dan cukupi kebutuhan tidur. Usahakan tidur 8-10 jam pada jam yang sama setiap malam.
Perlu diketahui juga, seep paralysis umumnya terjadi pada orang yang tidur dalam posisi telentang (wajah menghadap ke atas dan hampir nyenyak atau dalam keadaan hampir terjaga dari tidur). Itu sebabnya, kita perlu sering mengubah posisi tidur untuk mengurangi risiko terserang gangguan tidur ini.
Nah, jika tindihan disertai gejala lain, ada baiknya segera ke dokter ahli tidur atau laboratorium tidur untuk diperiksa lebih lanjut. Biasanya dokter akan menanyakan kapan tindihan dimulai dan sudah berlangsung berapa lama. Catatan yang telah Anda buat tadi akan sangat membantu ketika memeriksakan diri ke dokter.
Mitos Sleep Paralysis Di Berbagai Negara
- Di budaya Afro-Amerika, gangguan tidur ini disebut the devil riding your back hantu atau hantu yang sedang menaiki bahu seseorang.
- Di budaya China, disebut gui ya shen alias gangguan hantu yang menekan tubuh seseorang.
- Di budaya Meksiko, disebut se me subio el muerto dan dipercaya sebagai kejadian adanya arwah orang meninggal yang menempel pada seseorang.
- Di budaya Kamboja, Laos dan Thailand, disebut pee umm, mengacu pada kejadian di mana seseorang tidur dan bermimpi makhluk halus memegangi atau menahan tubuh orang itu untuk tinggal di alam mereka.
- Di budaya Islandia, disebut mara. Ini adalah kata kuno bahasa Island. Artinya hantu yang menduduki dada seseorang di malam hari, berusaha membuat orang itu sesak napas dan mati lemas.
- Di budaya Tuki, disebut karabasan, dipercaya sebagai makhluk yang menyerang orang di kala tidur, menekan dada orang tersebut dan mengambil napasnya.
- Di budaya Jepang, disebut kanashibari, yang secara literatur diartikan mengikat sehingga diartikan seseorang diikat oleh makhluk halus.
- Di budaya Vietnam, disebut ma de yang artinya dikuasai setan. Banyak penduduk Vietnam percaya gangguan ini terjadi karena makhluk halus merasuki tubuh seseorang.
- Di budaya Hungaria, disebut lidercnyomas dan dikaitkan dengan kata supranatural boszorkany (penyihir). Kata boszorkany sendiri berarti menekan sehingga kejadian ini diterjemahkan sebagai tekanan yang dilakukan makhluk halus pada seseorang di saat tidur.
- Di budaya Malta, gangguan tidur ini dianggap sebagai serangan oleh Haddiela (istri Hares), dewa bangsa Malta yang menghantui orang dengan cara merasuki orang tersebut. Dan untuk terhindar dari serangan Haddiela, seseorang harus menaruh benda dari perak atau sebuah pisau di bawah bantal saat tidur.
- Di budaya New Guinea, fenomena ini disebut Suk Ninmyo. Ini adalah pohon keramat yang hidup dari roh manusia. Pohon keramat ini akan memakan roh manusia di malam hari agar tidak menggangu manusia di siang hari. Namun, seringkali orang yang rohnya sedang disantap pohon ini terbangun dan terjadilah sleep paralysis.
dari berbagai sumber
Minggu, 16 November 2008
KINTA, SEJUTA INSPIRASI
Akulah penjagamu
Akulah pelindungmu
Akulah pendampingmu
Disetiap langkah-langkahmu
Kau bawa diriku ke dalam hidupmu
Ke basuh diriku dengan rasa sayang
Senyummu juga sedihmu adalah hidupku
Kau sentuh cintaku dengan lembut
Dengan sejuta warna
Sebelas januari bertemu…
Menjalani kisah cinta ini…
Kinta terus mencoret-coret buku tulisnya. Inspirasi tak jua muncul untuk menghasilkan sebuah tulisan yang akan dimuat pada salah satu rubrik di buletin yang dipimpinnya. Belum lagi sms dari manager pelaksana yang mewanti-wantinya untuk segera menyelesaikan tugasnya yang keburu deadline. Dan saking susahnya memunculkan sebuah inspirasi, Kinta memutuskan menulis lirik-lirik 11 Januarinya Gigi yang sedang didengar melalui ponselnya. Sebagai tulisan yang nantinya akan dimuat.
“ Hmmmm, 11 Januari.” Desisnya dan tersenyum simpul. “ 11 Januari,” ulangnya lagi. “ Gila aja, kalo ini yang kukasih ke redaksi. Bisa-bisa menager mencak-mencak. Aku ngga bertanggung jawablah, inilah, itulah, yang akan keluar dari mulutnya sebagai respon terhadap tulisanku. Egp. Emang gue pikirin. Hehe…” Jelas aja Kinta berpikir seperti itu. Toh, tugasnya bukan menulis kembali lirik lagu, tetapi membuat cerpen. Walaupun ia berkedudukan sebagai pimred di buletin tersebut, tapi yang namanya tugas, tetaplah tugas.
Kinta memandang kamar berukuran 3 x 3 meter yang disewanya tiga bulan yang lalu. Menatap setiap sudut. Mencari inspirasi yang mungkin saja tergantung bersama pakaiannya di belakang pintu.
“Cowok banget,” Kinta tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar. “ Kamarku ngga beda dengan kapal pecah,..cape deh.”
Di sudut kanan kamar, ada setumpuk pakaian kotor yang belum sempat dicuci. “ Maklumlah, sibuk nih. Belum lagi dengan tugas kuliah yang menumpuk, acara di organisasi yang ngga pernah usai, dan sekarang deadline tulisan.” Kinta membela diri. Kepada siapa? Nuraninya mungkin, yang udah ngga tahan lagi melihat kesemrautan kamarnya.
Lima gambar tertempel di dinding kamar berwarna biru muda itu. Posternya raja Rock ‘n Roll, Elvis Presley. Gambar anatomi tubuh manusia. Anatomi sistem digestive. Mading yang berisikan foto-foto, bukti pembayaran berbagai jenis belanjaan, dan aneka lomba yang dilaksanakan beberapa bulan ke depan. Poster terakhir, daftar kegiatan Kinta selama seminggu.
Gadis yang sedang kuliah di Fakultas Kedokteran di sebuah universitas negri ini beranjak dari meja belajarnya, mengambil spidol dan menuliskan jadwal kegiatan besok. Kinta terbelalak menatap tanggal di kalender. Besok itu tanggal 19. Jadwal deadline tulisan tanggal 19, dan tanggal 19 itu adalah besok, bukan lusa. So, apa yang harus ditulis dalam waktu sesingkat ini?
“Waduuuuhhhh,…” Kinta meringis dan menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya ngga gatal.
“ Makanya, kalo ada tugas itu dikerjain terus mumpung ada waktu. Jangan ditunda-tunda.” Nasihat mamanya ketika datang ke kost-an Kinta tanpa pemberitahuan sebelumnya dan menyaksikan kamar anak perempuan satu-satunya itu layaknya kapal pecah!!! Kinta tak bisa berkelit. Mau bilang ngga sempat karena jadwal kuliah yang padat, sangat tidak mungkin. Mama telah melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Kinta lagi seru-serunya main game Aspalt di laptopnya. Duh…
Kinta kembali menatap jadwalnya yang tertempel di dinding, kali ini fokusnya tidak pada jadwal yang seabrek itu tetapi pada kalimat yang tertulis di bagian atasnya “ Kewajiban yang kita miliki, lebih banyak dari waktu yang tersedia”
“ Kenapa aku terpojok seperti ini?” batinnya. Selama ini Kinta bukannya tidak sadar atas kehadiran kalimat pada poster itu. Namun, kalimat itu sekarang seolah tertawa lebar ke arahnya dan mengejeknya “ Aku bukan sekadar pajangan, Kin. Tapi, kamu harus mendalami dan mengerjakan setiap makna yang kumiliki. Nah lho, sekarang baru kena batunya, kan?”
Sangat menohok dan membuat Kinta gondok.
Kau bawa diriku ke dalam hidupmu kau basuh diriku dengan rasa sayang… ponselnya berdering. Dari Early, teman sekaligus komting angkatannya.
“ Ya, Ear. Ada apa?”
“ Cuma mau bilang besok jam 8 pagi kita kuliah obstruksi usus, Kin.”
Kinta terperanjat. “ Serius kamu? Bukannya besok kita hanya praktikum PK (patologi klinik) jam 2?”
“Jadwal yang sebenarnya emang gitu, tapi dokter Yadi harus ke luar kota besok lusa. Jadi, kalau ngga diganti secepatnya, takut ntar ngga sempat lagi. Lagian minggu depan kita ujian. Udah dulu ya, Kin. Aku mau hubungi yang lain.” Early memutuskan telpon.
“ OMG.” Kinta mengerang. “ Kok bisa semuanya jadi amburadul begini?”
Besok kuliah jam 8 dengan dokter Yadi, itu artinya ia harus menguasai materi yang akan dikuliahkan setidaknya lima puluh persen. Jika tidak, bersiap-siaplah untuk diceramahi di depan kelas. “ Bagaimana kamu mau jadi dokter, kalo anatomi dan fisiologi ini saja tidak tahu. Belum lagi jika organ tersebut patologis.” Dan bla bla bla… dua jam kuliah akan berlipat ganda.
Tapi kapan belajarnya? Deadline tulisan belum selesai karena inspirasi tak mau kompromi. Mau TA (titip absen ) besok? Impossible. Dokter Yadi selalu mengabsent mahasiswa satu per satu. Nah, kalau Kinta tidak ada ketika namanya dipanggil. Urusan akan semakin rumit. Kacau jadinya. Ia akan dipanggil pihak akademis, diinterogasi bak seorang tersangka, mau ngasih alasan apa kalau udah begini?..ah pokoknya ribet.. Lagian, ngga Kinta banget kalo TA. Ya, walau bagaimanapun Kinta, ia tetap berprinsip. Kalau memang ia tak bisa masuk kuliah, biar aja absentnya kosong. No space for TA. Peduli amat dipanggil sama pihak akademis, toh itu memang kesalahannya. Dan syukurnya ia selalu lolos dari pemanggilan itu karena ia memang tidak pernah absent kuliah kecuali beberapa kali dan itu tidak dipermasalahkan dosen yang mengajar apalagi pihak akademis.
“Allah help me…” minggu depan ujian. Bahan setumpuk dan belum satupun dibacanya.
Sosok Early yang sedang tersenyum melintas dibenaknya. Cowok yang sering diejek teman-teman dengan “balon” alias “banci salon” itu membuat Kinta semakin bersalah. Bukan karena perubahan jadwal kuliah yang baru saja disampaikan Early, tapi karena kehidupan cowok yang menjadi teman dekatnya selama kuliah. Hidup yang telah terpola, begitu Kinta menyebutnya. Dan bagi Kinta, itu sangat membosankan.
“Jalani aja hari ini untuk hari ini. Besok untuk besok,” ucapnya pada Early ketika membaca buku temannya itu yang penuh dengan catatan kuliah, jadwal harian, dan target yang ingin dicapai. “ untuk apa ditargetkan sampe segitunya, Lon.” (“Lon” diucapkan seperti pada kata balon)
Kinta juga tak urung mengejek Early dengan “balon” seperti teman-temannya yang lain. Namun, Early tidak pernah ambil pusing. Itu yang membuat Kinta kagum. Early tetap PD dengan apa yang dimilikinya.
Kali ini pikiran Kinta menuju ke kamar Early yang sempat dikunjunginya bersama teman-teman yang lain ketika Early sakit.
Kamar yang bersih dan harum. Sangat nyaman. Isi kamarnya lebih banyak dari kamar Kinta, tapi tersusun rapi. “Seperti kamar cewek,” ucapnya pada Early, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kamarnya.
Early juga tinggal di kost-an dengan ukuran kamar yang lebih kecil dari kamar Kinta. Aktif di organisasi. Tapi masih sempat mengerjakan tugas-tugas lain. Masih sempat belajar. Dan merapikan kamar.
“ Ngga salah, Ear. Kalau kamu diejek banci sama anak-anak. Kelakuanmu tak ubah seperti cewek. Ribet. Disiplin seperti mamaku.” Cibir Kinta ketika mereka sedang makan mie pangsit di kantin kampus.
“Biarin aja. Daripada kamu, Kin. Cewek kelakuannya seperti cowok. Calon dokter, tapi amburadul. Ngga rapi,” balas Early, “Terserahlah, Kin. Aku tetaplah aku, walau bagaimanapun aku.
Mamaku bilang, dalam hidup harus memiliki objektivitas, dan prioritas yang akan dicapai. Dan aku ingin menjalankan hidup ini seperti yang mama bilang. Peduli amat dengan orang. Aku merasa nyaman dengan diriku.” Early menjelaskan panjang lebar ke Kinta dengan gaya gemulainya. Kinta ingin mengelak waktu itu, tapi tidak bisa. Apa yang dikatakan Early adalah benar.
Huh… Kinta terpaku mengingat kata-kata Early. Membayangkan tugas-tugas yang belum dikerjakan. Tulisan yang belum selesai. Jadwal kuliah yang berubah-ubah. Ujian di depan mata. Pakaian yang belum dicuci. Kamar yang berantakan. Dan orang tuanya yang pontang panting mencari nafkah untuk membiayai hidup dan kuliahnya yang jumlahnya tidak sedikit.
God,..
Objektivitas ?!?
Prioritas ?!?
Jumat, 14 November 2008
Hari Kesehatan nasional Vs Pelayanan Kesehatan
Mengapa harus sehat?
Cara paling cepat masuk kubur adalah dengan mati. Cara paling cepat mati adalah dengan sakit-sakitan. Adalah fakta jika kebanyakan orang tidak ingin cepat mati. Oleh sebab itu, sehat merupakan dambaan setiap orang diseluruh pelosok dunia.
Sehat bukan hanya merefleksikan prospek untuk hidup lebih lama, bahkan juga menjadi fondasi untuk hidup lebih produktif secara sosial maupun ekonomi. Jadi, bebas penyakit adalah syarat utama untuk hidup lebih maju. Maka wajar saja kalau di negara-negara maju, angka kematian sangat kecil. Bandingkan saja, dari 1000 kelahiran bayi di Indonesia, 33 diantaranya meninggal. Sementara Malaysia, tetangga kita, hanya 8 yang meninggal dari 1000 kelahiran (UNDP, 2003).
Kebutuhan akan sehat tidak hanya diperoleh dengan cara hidup sehat, tapi juga dengan adanya pelayanan kesehatan. Adalah tugas negara untuk membuat rakyatnya sehat dengan membuka akses kesehatan secara maksimal. Kesempatan untuk mendapat pelayanan kesehatan dipandang sebagai hak paling asasi dari rakyat. Maka tidak boleh tidak, pemerintah harus menyediakan rumah sakit, dokter, perawat, obat-obatan, perlengkapan serta pelayanan lainnya dengan mutu dan standar yang optimum.
Namun pada kenyataannya, pelayanan kesehatan di masyarakat kita masih jauh untuk dapat dikaatakan memadai, terlebih lagi jika hal itu telah menyangkut rakyat miskin, masyarakat yang justru mendominasi negeri ini. Tidak jarang kita melihat banyaknya kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah terutama menyangkut program-program yang ditawarkan pemerintah untuk memudahkan mereka dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.
Dalam sebuah kunjungan ke Kecamatan Ulim, Pidie Jaya, dalam rangka mengikuti kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan fakultas tempat penulis menuntut ilmu sekarang, penulis sangat miris ketika melihat banyak masyarakat miskin di wilayah tersebut yang bahkan hingga saat ini tidak tahu benar tentang apa itu Askes (Asuransi Kesehatan), Kartu sehat maupun Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Apalagi ketika diminta pendapatnya tentang Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK) atau Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM). Susahnya akses informasi tentang bagaimana prosedur mendapat kartu Askes atau Bantuan Langsung Tunai (BLT), ketidaktahuan mereka ke mana mengadukan hak ketika mereka diabaikan, serta sejumlah penghambat lain, sekaligus menyuburkan bilangan kaum miskin yang tidak tersentuh program pemerintah. Jika demikian keadaannya, bagaimana bisa berharap lebih pada peringatan HKN ke-44 tahun ini? Kapan kira-kira masyarakat kita bisa benar-benar sehat dan menguatkan negeri kaya raya ini?
Masalah-masalah yang terjadi di Ulim merupakan fenomena gunung es, artinya masih banyak masalah serupa yang juga terjadi di daerah lain di Aceh dan Indonesia pada umumnya. Kita mungkin tidak akan menyangkal jika ternyata di sekitar kita, kartu sehat atau kartu Askes justru beredar dikalangan masyarakat yang berada atau kelas menengah ke atas. Mungkin mereka adalah keluarga Pak Geuchik atau Kepala Desa, keluarga birokrat Puskesmas, dan lain-lain yang belum tentu mereka berhak mendapatkannya.
Kita juga pasti sering mendengar atau bahkan menyaksikan sendiri betapa pilunya hati pasien yang terpaksa dipulangkan saat benar-benar membutuhkan pertolongan kedaruratan di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit karena tidak cukup biaya. Kita mungkin pula akan mengiyakan betapa masih banyak pelanggaran dalam pelayanan kesehatan terhadap pasien yang dilakukan baik oleh dokter, perawat, mantri atau bidan-bidan di desa. Kita juga selalu akan mengerti dengan kenyataan miris bahwa kita masih selalu kedatangan penyakit-penyakit infeksi tropik yang seharusnya sudah enyah dari negeri ini, mislanya diare, demam berdarah atau malaria.
Masih banyak kenyataan lain yang mungkin bisa menjadi kontraproduktif dengan acuan tema peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) tahun ini dan harapan untuk menuju Indonesia Sehat 2010.
Momentum untuk refleksi diri
Momentum peringatan Hari Kesehatan Nasional (2008) haruslah menjadi momentum refleksi dan evaluasi pemerintah atas sejauh mana peran pemerintah dalam melaksanakan tanggungjawabnya terhadap pelayanan kesehatan terhadap rakyatnya. Pelaksanaan HKN ini tidak selalu harus dilakukan dengan perayaan seremonial, pameran, atau aneka lomba, tetapi seharusnya bisa lebih menyentuh pada masyarakat seperti melihat dan mengukur seberapa besar kebijakan anggaran di sektor kesehatan, bagaimana pemenuhan fasilitas fisik pelayanan kesehatan, seberapa banyak masyarakat miskin yang tidak terjangkau layanan kesehatan dan seberapa besar jumlah masyarakat miskin yang mendapatkan Askes atau tidak mendapatkan Askes serta apa upaya mengantisipasinya, bahkan bila perlu bisa mendapatkan data terpilah tentang jumlah orang sakit atau bagaimana mendorong agar semakin banyak tenaga kesehatan professional.
Pada intinya adalah momentum HKN ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua untuk melakukan yang terbaik demi mewujudkan masyarakat Indonesia khususnya Aceh yang benar-benar “sehat”, bukan masyarakat yang hanya “dianggap sehat”.
Jumat, 31 Oktober 2008
AKMK,.first day...
Tapi, aku yang dari hari pertama datang sudah ambruk,.tetap mencoba sebatas tenaga memberikan konstribusiku untuk AKMK ini..hmm,besok pagi-pagi aku harus bersiap-siap. Acara pelatihan dokter kecil besok diselenggarakan. Dan aku menjadi penanggung jawabnya..everything is okay,mulai dari tempat,perlengkapan,peserta, semua tinggal menunggu besok.. Semoga kesehatanku membaik,dan I can do better..amiin.. Ps : berhubung pake hape,maklumkan saja kata-katanya sedikit amburadul..
Senin, 27 Oktober 2008
DITILANG???? OH nO...Help Me
Pernah terperangkap razia polisi lalu lintas? siapa yang pernah mengalaminya pasti akan tau dengan istilah TILANG,..ya, terlebih lagi razia yang dilakukan pada akhir bulan. ngga sedikit yang terkena tilang... dan salah satunya aku..
Terperangkap razia polisi memang bukan hal yang menyenangkan. mungkin kalau aku mau berTP sedikit saja kepada mereka, persoalan akan lebih gampang. tapi that's not me. bukan hobiku senyam senyum didepan orang yang tak kukenal terutama kaum adam itu, apalagi polisi. mereka seolah2 mendapatkan peringkat yang sangat rendah dimataku.
sore itu, aku bersama Ade sepupuku pulang dari counter hape. ponsel kita terpaksa diperbaiki karena terserang virus akibat keasikan mendownload theme. biasanya kami akan melewati jalan pintas untuk kembali ke rumah, ya karena ade yang kebetulan mengendarai motor tidak membawa SIM dan STNK,.. but, naasnya, sore itu kami melewati jalan raya yang pastinya tidak seaman dari jalan pintas yang biasanya kami lewati. dan tentu saja, di depan kami telah berdiri puluhan polisi lantas yang sedang merazia seluruh sepeda motor yang lewat, dan kami masuk di dalamnya. tanpa banyak basa-basi, kami langsung memarkirkan motor didepan trotoar.
SOLUSI CERDAR ALA LIZAA N ADE
syukurnya, polisi yang menyuruh kami berhenti tidak membututi kami dari belakang. spontan saja ide gila muncul dibenak kami berdua. memasang wajah tak bersalah dan berpura-pura duduk di bangku yang disediakan penjual burger di trotoar jalan tepat di depan parkiran motor.
sambil mencincipi burger, kami asyik menertawakan para pengendara motor yang harus membayar denda kepada polisi akibat tidak membawa SIM atau STNK. dan syukurnya juga tak satupun polisi yang berada di depan kami itu curiga kalau kami termasuk tersangaka dlam razia yang mereka lakukan. bayangkan saja, kalau merekla sempat menginterogasi kami,.ratusan ribu rupiah pasti akan melayang dari dompet, betapa tidak, SIM dan STNK tidak di bawa ADE.
Sabtu, 25 Oktober 2008
SIAPA AKU??? (Part two)
hari ini terasa begitu panjang,.. di pagi hari aku harus mengikuti ujian blok 13 tentang bith and pregnancy disela2 kesibukanku yang begitu padat. mulai dari deadline tulisan di majalah, acara AKMK (aksi kemanusiaan mahasiswa kedokteran)yang tahun ini aku dan teman-teman seangkatanku menjadi panitia, jadwal kuliah yang masih full walaupun ujian sudah didepan mata. tugas kelompok dan personal yang harus diselesaikan minggu ini juga,..lengkaplah semua alasanku untuk tidak belajar...hufff,..hehehe,..mencari alasan!!!
hari ini, setelah ujian (08.00-10.00), yang sebenarnya dijadwalkan jam 10.00,tapi syukurnya panitia ujian mau berkompromi denganku dan mustafa temanku yang satunya lagi yang kebetulan juga menjadi calon penerima beasiswa disalah satu perusahaan terkemuka di Indonesia dan menggeser jadwal ujian kami menjadi jam 8.
jam 10 lebih beberapa menit, aku dan temanku langsung menuju tempat penyeleksian peneriama beasiswa itu. tanpa sempat beristirahat, karena memang sudah telat setengah jam, kami langsung disuruh mengisi biodata dan berbagai pertanyaan lainnya. setelah itu psikotes,..dan dilanjutkan dengan menulis ESSAY yang betemakan SIAPA AKU. spontan aku tersenyum sendiri mendengar tema yang diberikan panitia. langsung saja aku menuliskan tentang siapa diriku yang isinya tidak jauh berbeda dari tulisanku diblog ini beberapa hari yang lalu. hanya saja aku menambahkan komentar teman-teman disetiap kalimat yang kutulis. thanks to Ijal, Beni, dan mas Adnan atas semua komentarnya yang memberiku inspirasi...
Sabtu, 18 Oktober 2008
SIAPA AKU? KU TAK TAHU
Sering teman-temanku mengatakan aku ini seperti ini, seperti itu. Namun, aku sering merasa diriku sama sekali ngga seperti itu. Lantas siapa aku? itulah yang kucari selama ini.
mencari tahu siapa diriku ternyata ngga gampang. sangat susah. sangat banyak hal yang tidak kumengerti tentang diriku ini. makanya ketika seseorang menyakan siapa aku? AKU TIDAK TAHU, itu jawabku.
Terkadang aku berpikir, mungkin ada baiknya aku tidak mengenal diriku sendiri. Ya, karena kekurangtahuanku terhadap diriku membuatku mencari tahu siapa sebenarnya aku. apa yang aku inginkan, dan lain sebagainya.
Seandainya aku telah tahu siapa aku, mungkin aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan di dunia ini. Ya, untuk apa? karena semua telah kuketahui. dan aku bersyukur dengan keadaanku ini. keadaan yang membuatku mencari tahu siapa diriku melalui lorong-lorong kehidupan yang penuh lika-liku ini.
suatu siang di perpustakaan FK UNSYIAH
Sabtu, 13 September 2008
Foto-foto di danau toba
Minggu, 07 September 2008
WISATA di MEDAN
Danau Toba,…Subhanallah…
Untuk farewell party, panitia membawa kita ke Danau Toba. Asyiikkk banget. Dari Medan, kita harus menempuh lima jam perjalanan. Cukup melelahkan, tapi pesona danau toba bisa menggantikan kepenatan selama perjalanan.
Sore hari kita tiba di penginapan yang terletak berhadapan dengan danau toba. Aku yang kelelahan memutuskan untuk beristirahat saja di penginapan bersama Nur dan Icha, sedangkan beberapa temanku yang lain tidak sabar ingin melihat indahnya danau toba.
Malam harinya, panitia mengumpulkan kami untuk mengikuti acara penutupan. Dengan dikelilingi api unggun, kami dihibur dengan aksi kocak pasangan soulmate Uta dan Komang, delegasi dari Univ. Udayana Bali. Setelah itu kami melakukan pesta DURIAN. Ho ho ho… ada puluhan durian yang dibawa oleh pembantu dekan FK USU, bang DEDI. Dan dengan puas kami melahap seluruh durian itu. Alvine yang maniak duren langsung memilah durian yang menurutnya bagus dan manis. Sedangkan aku, menunggu durian selesai dikupas dan dibagi-bagikan saja.
Setelah pesta durian, kami semua kembali ke kamar masing-masing. Suhu daerah Prapat yang dingin membuat kami ingin segera beristirahat.
Keesokan harinya, kami menuju pulau Samosir. Sebuah pulau yang terletak di tengah-tengah danau toba. Dengan menggunakan kapal fery, kita pun menuju Samosir. Ditengah-tengah perjalanan, panitia menunjukkan sebuah gunung yang terdapat batu gantung.
Menurut cerita, batu gantung yang menyerupai kaki manusia itu adalah kaki seorang putri Samosir yang tersangkut ketika hampir jatuh ke jurang bersama anjingnya. Saat itu sang putri sedang melarikan diri dari rumahnya karena tidak ingin dinikahkan dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Kemudian tersangkut ia di sebuah pohon ketika hampir jatuh ke jurang hingga akhirnya membatu seperti saat ini. Hmmm,.. apakah itu kenyataan atau sebuah ilusi,.. entahlah,..aku tidak mau berspekulasi.
Di Samosir,..kami hanya diberikan waktu setengah jam untuk jalan-jalan dan belanja. Sangat singkat karena ada beberapa delegasi yang harus kembali ke daerahnya pada sore hari. Keasyikan berfoto membuat kami semua tidak sempat berbelanja pernak-pernik khas Toba. Sampai akhirnya kita harus kembali ke kota Medan dan pulang ke daerah masing-masing…
Semoga di lain waktu aku bisa kembali ke danau Toba..
WISATA di MEDAN
Istana Maimun,.. ikutan yuuukkk!!!
Kalau jalan-jalan di Kota
Apa sih istimewanya Istana Maimun ? Yuk kita lihat...
Istana ini dibangun pada tahun 1888. Waw, sudah 100 tahun lebih. Waktu kami datang, banyak turis dari negara tetangga,
Arsitektur bangunan merupakan perpaduan antara ciri arsitektur Moghul, Timur Tengah,
Bangunan istana terdiri dari tiga ruang utama, yaitu: bangunan induk, sayap kanan dan sayap kiri. Bangunan induk disebut juga Balairung dengan luas 412 m2, dimana singgasana kerajaan berada. Singgasana kerajaan digunakan dalam acara-acara tertentu, seperti penobatan raja, ataupun ketika menerima sembah sujud keluarga istana pada hari-hari besar Islam.
"Yang paling unik disini yah ruang pertemuan untuk pertemuan adat istiadat ini, yang sampai sekarang masih kami gunakan. Pertemuan dengan Sultan Deli, yang masyarakat Melayu bilang Angkat Sembah Kepada Sultan," jelas Bapak Tengku Hamzah, pemandu wisata kami.
Kalau dilihat-lihat, perabotan istana ini berasa banget pengaruh Eropanya. Lampu-lampu kristal dan perabotan istana seperti kursi, meja, dan lemari. Mungkin karena sang arsitek istana ini asalnya dari Italia yah. Selain perabotan, sebagian material bangunan memang didatangkan dari Eropa, seperti misalnya ubin marmer. Waduh, jauh banget yah.
Di dalam istana terdapat 30 ruangan, dengan desain interior yang unik, perpaduan seni dari berbagai negeri. Dari luar, istana yang menghadap ke timur ini tampak seperti istana raja-raja Moghul.
Inisiatif membangun istana yang terus jadi pusat pemerintahan Kesultanan Deli adalah Sultan Deli ke-9, yaitu Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Ya, keturunan Sultan Deli memang masih ada dan sekarang gelar sultan dipegang seorang bocah. Tengku Mahmud Arya Lamanjidi, yang juga putra sulung almarhum Letkol. Inf. Tito Otteman Mahmud Perkasa Alam.
"Sultan yang sekarang usianya sekarang kira-kira 10 tahun. Tuanku Mahmud Arya Lamanjidi Perkasa Alam, Sultan Deli XIV. Beliau ditabalkan pada tahun 2005 yang lalu. Setelah ayahandanya meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat terbang di Aceh, Lhoksemauwe. Almarhum ayah Sultan Deli, seorang TNI, Tuanku Otteman Mahmud Perkasa Alam yang berpangkat kolonel dari Batalyon Siliwangi," papar Tengku Hamzah.
Wah tragis juga yah. Sang sultan cilik ini sendiri, lebih banyak tinggal di Sulawesi Selatan, ikut sang ibunda yang asli orang
Meriam Puntung
Di Istana Maimun, juga terdapat meriam buntung yang memiliki legenda tersendiri. Orang
Kisah meriam puntung ini punya kaitan dengan Putri Hijau. Dikisahkan, di Kerajaan Timur Raya, hiduplah seorang putri yang cantik jelita, bernama Putri Hijau. Ia disebut demikian, karena tubuhnya memancarkan warna hijau. Ia memiliki dua orang saudara laki-laki, yaitu Mambang Yasid dan Mambang Khayali. Suatu ketika, datanglah Raja Aceh meminang Putri Hijau, namun, pinangan ini ditolak oleh kedua saudaranya. Raja Aceh menjadi marah, lalu menyerang Kerajaan Timur Raya. Raja Aceh berhasil mengalahkan Mambang Yasid. Saat tentara Aceh hendak masuk istana menculik Putri Hijau, mendadak terjadi keajaiban, Mambang Khayali tiba-tiba berubah menjadi meriam dan menembak membabi-buta tanpa henti. Karena terus-menerus menembakkan peluru ke arah pasukan Aceh, maka meriam ini terpecah dua. Bagian depannya ditemukan di daerah Surbakti, di dataran tinggi Karo, dekat Kabanjahe. Sementara bagian belakang terlempar ke Labuhan Deli, kemudian dipindahkan ke halaman Istana Maimun.
Sementara Istana Maimun selain dibuka untuk tempat wisata, sebagian ditempati kerabat kesultanan. Nah, kalau datang ke
Setelah mengelilingi Istana Maimun, panitia kemudian mengajak kami ke pusat pemberlanjaan




