Kamis, 05 Maret 2009

Menikmati Kebosananku

Maret 05, 2009 10 Comments
Wah wah,.. ngga terasa udah lama juga ya aku ngga ngeblog. Kira-kira dua minggu gituan lah yaa. Biasanya hampir setiap hari aku mengupdate blog ini. Ada apa denganmu liza? Aku ngga kenapa-napa kok. Cuma, yeahh, sifat dasarnya manusia yang terkadang mengalami kebosanan atas sesuau aktivitas yang rutin ia kerjakan menyerangku hingga akupun mulai bosan. Bosan dengan rutinitasku ini, walau sebenarnya aku tidak bisa mengatakan menulis blog adalah sebuah rutinitas.

Ngeblog adalah hobiku disela-sela padatnya jadwal kuliah dan kerjaku. Menuliskan berbagai unek-unek di kepala yang pastinya tidak berhubungan dengan mata kuliah dan berita ekonomi yang setiap hari mengisi waktuku. Ada kepuasan tersendiri ketika sebuah tulisan berhasil kutulis. Memang benar apa yang dituliskan oleh seorang psikolog (namanya siapa ya? lupa) dalam buku Quantum Writing tentang dahsyatnya menulis. Menulis masalah/unek-unek yang ada di pikiran membuat kita lebih tenang dan baik untuk kesehatan. Bahkan penelitiannya membuktikan bahwa hampir semua mahasiswa yang menjadi objek penelitiannya mengaku lebih sehat dan segar setelah menuliskan segala hal yang membuatnya trauma.

Apalagi kalau banyak teman-teman yang ikut mengomentari tulisan kita tersebut, pasti jadi lebih senang untuk menulis.

Tapi beberapa hari yang lalu aku benar-benar tidak ingin menulis. Menulis blog tepatnya. Aku tidak perlu berasionalisasi untuk mencari seribu alasan yang bisa menjawab kenapa aku tidak menulis. Aku sedang bosan, itu saja. Dan aku ingin menikmati kebosananku. Nah lho, bingungkan??? Bosan kok dinikmati? Hehehe, susah juga menjelaskannya. Yang jelas aku benar-benar menikmati kebosananku dan membiarkannya menggerogoti jiwaku sampai akhirnya ia berpamitan sendiri dan aku kembali menulis. Seperti sekarang, aku menulis. Aku mencoba memposting kembali tulisanku di blog ini. Karena bosan sedang cuti sebentar untuk liburan.

Jumat, 20 Februari 2009

Pohon Asam Kok Buahnya Caleg?

Februari 20, 2009 23 Comments
 
http://www.duaberita.com/main/images/stories/fruit/koruptorlingkngan.jpg
Akhir-akhir ini fenomena aneh melanda negeri ini. Tidak hanya di satu tempat saja, tetapi dari Sabang sampai Merauke kejadian aneh tapi nyata terjadi. Nah lho? Apakah itu? Yoohaaa,..pohon-pohon tidak lagi menghasilkan buah sebagaimana layaknya. Buahnya telah berubah. Pohon mangga tidak hanya menghasilkan buah mangga. Pohon asam jawa yang belum musimnya berbuah juga telah berbuah, tapi bukan buah asam. Bahkan pohon yang tidak berbuah sekalipun kini telah berbuah. Buahnya sama semua. Aneh tapi nyata. It’s the fact. Semua berbuah foto CALEG.

Buah-buah caleg itu dihasilkan oleh berbagai pohon (terutama yang terletak di sepanjang jalan) melalui hasil mutasi gen dan juga persilangan antara sang pohon dan kampanye Pemilu 2009. Buah yang dihasilkan juga beraneka warna dan jenis kelamin. Ada warna putih dengan lambang bintang, atau warna hijau dengan lambang bulan. Ada warna merah gambar burung (mungkin untuk mempercepat penyerbukan). Pokoknya segala macam warna yang ada di dunia ini (mejikuhibiniu) menjadi warna buah sang pohon. Kemudian isi buahnya ada laki-laki atau pun perempuan. Ada yang masih muda atau telah lanjut usia. Buah-buahnya juga beda-beda kualitas. Ada yang bertaraf kabupaten, provinsi, bahkan negara. Semua buah itu yang akan dipilih masyarakat Indonesia nantinya pada tanggal 9 April 2009 untuk menjadi wakilnya.

Tapi, terpikirkah kita dengan hadirnya buah-buahan yang sangat aneh tersebut dan marak pada beberapa bulan terakhir sangat tidak diharapkan sang pohon. Istilah kasarnya buah yang tidak diinginkan. Betapa tidak, buah tersebut bukanlah murni dihasilkan pohon tersebut. Semua buah tersebut adalah para caleg 2009 yang sedang melakukan kampanye. Mereka telah merusak pohon-pohon tersebut dengan memaksa makhluk yang menghisap CO2 sepanjang masa untuk “berpura-pura” menjadi pohon dari buah tersebut. Ada yang memaku, mengikat dengan kawat, atau menjadikan sandaran, meski pohonnya masih kecil dan belum cukup kuat menahan beban angin (bisa patah).

Nah, bagaimana mereka bisa benar-benar bisa diberi amanat untuk menjadi wakil rakyat kalau mereka sendiri masih suka menzalimi. Bukankah pohon itu adalah makhluk hidup dan juga ciptaan Yang Maha Kuasa? Berapa banyak jaringan-jaringan tumbuhan tersebut yang mati karena terkena paku atau ikatan kawat?

Saya merasa kalau para caleg ini, sudah tidak punya kepedulian pada lingkungannya, jangan harap mereka akan peduli pada kader atau simpatisan yang sudah memberikan suara pada mereka, waktu pemilu.

Semoga saja kita tidak tertipu dengan wajah cantik atau ganteng dari para caleg yang terpampang di pinggir-pinggir jalan, dipaku di pohon, ditempel di tiang listrik atau telepon, bahkan di cat di tembok.

Mari kita sebagai masyarakat yang demokratis, lebih bijak, dalam menentukan masa depan bangsa kita, dengan menitipkan aspirasi kita, pada calon legislatif yang punya kepedulian tinggi pada lingkungan, tidak sekedar janji atau ucapan, tapi praktek nyata di masyarakat dan lingkungannya.

Mari Selamatkan Lingkungan dan Bumi kita dari perusakan, demi masa depan generasi kita.

Selasa, 17 Februari 2009

ZINDAGI MIGZARA

Februari 17, 2009 10 Comments
Zendagi Migzara. Sebuah kalimat yang mungkin ngga asing lagi di telinga kita. Namun, aku yakin, banyak diantara kita yang tidak tahu artinya. Aku juga ngga bakal tau artinya atau bahkan ngga tau kata-kata tersebut sebelum membaca novel karyanya Khaled Hoseini " The Kite Runner ". Sebuah novel yang menceritakan kisah hidup Amir di Afganistan. Oke, sebelum aku berkisah tentang Sang Pengejar Layang-Layang itu, biar ngga membuat semuanya bingung tentang arti ZINDAGI MIGZARA (kalo udah tahu diam aja yaaa,..hehhehe ini khusus untuk yang belum tau :)), pernah dengar Life Goes On? Atau Hidup Terus Berjalan? Nah itulah arti Zindagi Migzara.

Waktu luang ketika libur semester kali ini kumanfaatkan untuk bekerja dan membaca. Ada beberapa novel tergeletak di kamarku. Satu The Kite Runner yang kupinjam dari FLP dan satu lagi Dunia Bahagi yang kusewa disebuah taman bacaan. Sekarang aku akan menceritakan sedikit tentang The Kite Runner, sebuah novel dengan ketebalan 600an halaman dan kuhabiskan dalam waktu sehari.

The Kite Runner, Sang Pengejar Layang-Layang.

Novel ini merupakan karya pertama Khaled Hoseini tentang Afganistan (two thumbs for this novel). Memuat banyak filosofi kehidupan dengan penyampaian yang begitu mengalir dan tidak menggurui (kapan ya aku bisa seperti Agha Khaled?)

Berkisah tentang perjalanan hidup Amir sejak kecil hingga dewasa. Dengan seting Afganisatan sebelum, pada dan sesudah masa taliban. Amir bukanlah seorang anak pemberani dan mandiri ketika kecil, haus kasih sayang ayah yang sangat maskulin.

Banyak tingkah laku Amir ketika kecil yang terkadang kita juga sering melakukannya, membuat kita berkaca bahwa kita juga sering mnecuri. Mencuri. Satu-satunya bentuk kejahatan yang berulang-ulang disindir dalam buku ini.
"Semua sumber kejahatan adalah mencuri. Ketika seseorang berbohong, maka sesungguhnya Ia mencuri kesempatan orang lain untuk mendapat kebenaran,"
ucap Baba (ayahnya Amir) yang sering kali diingatnya.

Buku ini bercerita bahwa meski sederet dosa dilakukan, hal tersebut adalah sebuah kewajaran sebagai manusia, tak perlu menghukum diri seumur hidup dengan lari dari kenyataan sebenarnya. Amir melarikan diri dari rasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan Hassan, sahabat setianya. Terkadang Amir juga merasa iri dengan kasih saying yang diberikan Baba untuk Hasan, seorang anak pelayan, yang menurutnya sangat berlebihan. Namun akhirnya terungkap bahwa ternyata Hasan adalah saudara tirinya.

Namun kembalinya dia ke Afganistan (setelah 15 tahun menetap di Amerika sejak pecahnya perang Afganistan melawan Soviet)membuatnya harus melakukan perubahan besar terhadap dirinya sendiri. yaitu menebus rasa bersalahnya dengan menyelamatkan Shohrab, anak Hassan dari keganasan perang Taliban.

Ada beberapa pesan yang bisa kutangkap dari novel ini, salah satunya adalah
saat rasa bersalah menggerakkan seseorang melakukan kebaikan itulah penebusan dosa sejati.

Ayah Amir memang melakukan kesalahan dengan menutupi kesalahannya dengan menghamili Saunubar (wanita Hazara yang akhirnya dinikahi Ali), dan Hassan sebagai anak kandungnya. Namun dia berusaha menebusnya dengan mendirikan panti asuhan dan perbuatan amal baik. Karena toh..masa lalu tak akan bisa di ulang kembali.
Hal itulah pelajaran terakhir yang di pelajari Amir dari Ayahnya, dan dia meneruskannya dengan jujur pada dirinya sendiri.

Jujur, ketika membaca buku ini aku menangis. Ketika Khaled menggambarkan bagaimana kepengecutan Amir yang rela membiarkan Hassan sahabat sejatinya diperkosa di depan matanya. Dan kelakuan Amir yang menuduh Hassan sebagai pencuri dengan tujuan agar diusir dari rumahnya.

Selain itu, gambaran kekejaman taliban, ketika Amir kembali ke Afganistan, sangat menyedihkan. Perbandingan antara gambaran Afganistan di masa kecil Amir, dan ketika masa Taliban, membuat pilu.
bagaimana bisa sebuah motivasi untuk menegakkan agama yang Rahmatan alamin bisa begitu penuh darah. . Menghacurkan peradaban dengan sehancur-hancurnya

The Kite???
Pengejar layang-layang adalah garis merah dalam cerita ini. Budaya bermain dan mengejar layang-layang adalah simbol dimana suatu masa, Afganistan tidak memperdulikan ras dan agama, syiah atau sunni, tetapi hanya sebuah kebersamaan, kegembiraan. Sebuah masa dambaan seorang Amir...dan kupikir juga masa-masa yang didambakan banyak orang.

Kamis, 12 Februari 2009

Semangat Itu Tak DiObral (Manusia Perahu Part Two)

Februari 12, 2009 23 Comments
Penuh dengan semangat!!!Itulah yang dapat tersirat dari teman acehblogger dan KPLI. Mereka dengan penuh semangat menelusuri persimpangan jalan di seputaran Simpang Lima Banda Aceh untuk mengumpulkan lembaran rupiah demi membantu Muslim Rohingya, Manusia Perahu itu. Hanya kata "maaf" yang bisa kuucapkan karena sejenak saja diri ini ikut bergabung (Maaf ya, teman-teman semua....).

Dalam aksi penggalangan dana itu, aku benar-benar terharu melihat antusiasme masyarakat. Mereka benar-benar peduli dengan sesama. Yeah, walaupun tak pengendara kendaraan bermotor itu memberikan sumbangan, tapi senyuman mereka membuat letih ini hilang.

Satu hal lagi yang membuatku terharu, ya, aku hampir saja meneteskan air mata ketika ada bapak-bapak yang tidak segan-segan mengeluarkan lembaran biru uang kertas yang memuat gambar I Gusti Ngurah Rai. Kemudian abang becak (dalam beberapa bulan ini aku semakin dekat dengan pengendara becak)yang dengan serta merta langsung memberikan uang hasil jerih payahnya. Satu lagi, seorang lelaki, yang masih remaja langsung saja menyodorkan uangnya.

Selain itu, masih banyak lagi masyarakat yang ikut menyumbang. Yeah, aku tak peduli dengan gombalan para "lelaki kurang kerjaan" ketika aku menengadahkan kotak sumbangan. Yang penting kalian nyumbang,hehehe...

(Saudaraku semuanya, semoga amal ibadah kalian diterima oleh Allah Swt,..Amiin)

Kira-kira sekarang teman-teman sedang ngapain aja ya di jalanan? Di tengah teriknya matahari siang? Bergumul dengan debu jalanan dan asap kendaraan? Semoga kalian tetap semangat, kawan. Walaupun sedikit yang penting kita peduli. Semangat!!!

Ohya, disana aku juga bertemu dangan blogger Aceh lainnya. Selama ini aku hanya mengenal mereka dari dunia maya (selain baiquni dan bang Husni). Ada Aneuk!! (ooohhh, itu rupanya yang namanya aneuk.. ngga sopan bgt selama ini aku memanggilnya dengan aneuk. mestinya Pak Aneuk.. ada juga muda bentara, dan lain-lain)... salam kenal yaaa,..

Senin, 09 Februari 2009

Manusia Perahu Adalah Saudara Kita

Februari 09, 2009 33 Comments
Permulaan tahun 2009, pekan kedua bulan Januari dan awal Februari, Aceh kedatangan ratusan tamu luar negeri yang dibuang oleh negaranya sendiri. Sungguh malang nasib tamu yang terkenal dengan sebutan “manusia perahu” ini. Di negeri asalnya disiksa dan dizalimi, di negeri tetangga diusir dan dibuang. Dan sekarang, tamu yang merupakan Muslim Rohingya itu terdampar diperairan Sabang dan Idi Rayeuk, Nanggroe Aceh Darussalam. Akankah mereka akan mengalami nasib serupa dari pemerintah kita?

Manusia tanpa negara

Etnis Rohingya adalah orang-orang tanpa kewarganegaraan yang mendiami kawasan perbatasan antara Myanmar-Bangladesh. Di Myanmar mereka mengalami penganiayaan dan siksaan yang brutal dari rezim junta militer. Inilah yang memaksa mereka menjadi manusia perahu yang berlayar dari satu negara ke negara lain, terutama Thailand, Malaysia dan Indonesia, untuk mencari tempat penghidupan yang lebih baik. Selain Myanmar, Thailand adalah negeri yang paling tidak bersahabat dengan orang Rohingya. Pemerintah negeri yang dulu bernama Siam itu selalu bertindak keras dan kasar bahkan mengarah ke pembantaian.

Muslim Rohingya adalah keturunan Bengali, Panthay dan campuran Burma-Cina. Sejak abad ke-7 Masehi mereka telah mendiami kawasan Arakan, sebuah wilayah seluas 14.200 mil persegi yang terletak di Barat Myanmar. Walau tinggal di kawasan yang masuk wilayah Myanmar, namun junta militer tidak mengakui kewarganegaraan mereka. Oleh sebab itu, mereka disebut juga dengan manusia tak bernegara atau orang tanpa kewarganegaraan (stateless people).

Sebagai Muslim yang hidup di bawah tekanan junta militer, tak mudah bagi etnis Rohingya menjalankan keyakinan mereka. Ratusan masjid dan madrasah di wilayah mereka dihancurkan, Al-Qur’an sebagai kitab suci dinjak-injak dan dibakar para tentara yang brutal. Perlakuan tak manusiawi ini membuat mereka berontak. Untuk menyelamatkan diri dan akidah, mereka melarikan diri dari tanah kelahirannya.

Muslim Rohingya termasuk dalam daftar pengungsi terbesar di dunia. Bangladesh adalah salah satu negara yang menampung mereka. Menurut data UNHCR, organisasi PBB yang mengurusi masalah pengungsi, jumlah pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp UNHCR Bangladesh mencapai 28 ribu orang. Di luar itu, lebih dari 200 ribu orang yang tak terdata. Mereka memilih hidup sebagai manusia perahu.

Karena tak ada tempat berpijak lagi, umat Islam yang terusir dari tanah kelahirannya ini memilih tinggal di atas perahu. Berlayar dari satu tempat ke tempat yang lain. Kadang mereka juga mendiami beberapa pulau kosong yang terdapat sepanjang perbatasan Myanmar-Thailand. Walau hidup susah, namun di pulau-pulau tak bernama ini mereka lebih leluasa menjalani hidup. Beberapa ormas dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) internasional kadang memberikan mereka bantuan pangan, obat-obatan maupun fasilitas pendidikan dan kesehatan.

Nasib Manusia Perahu di Aceh

Sebelum ditemukan terkatung-katung di tengah laut tanpa persediaan makanan oleh nelayan dan TNI AL, ratusan manusia perahu ini ditangkap oleh militer Thailand tepatnya di wilayah perairan Laut Andaman dan menahan mereka secara rahasia di sebuah pulau bernama Koh Sai Daeng.

Usai ditahan selama beberapa hari, kaum Muslimin yang tak berdaya ini kemudian diseret ke tengah laut lalu dintinggalkan di atas kapal tanpa mesin. Bahkan sebagian hanya ditinggali dayung. Tak ayal, sebagian besar manusia “tanpa negara” ini hilang dan mati tenggelam.

Sekarang ratusan “manusia perahu” yang juga beragama Islam telah tiba di Serambi Mekkah setelah ditemukan oleh nelayan setempat (Sabang dan Idi Rayeuk) . Kisah pilu manusia perahu itu membuat masyarakat Aceh sadar dan rasa ingin membantu. Yang paling memilukan adalah mereka harus membuang 22 saudara mereka yang meninggal ke laut lepas. Mereka meninggal karena kelaparan dan tidak adanya persediaan logistik di tengah laut.

Namun, bagaimana nasib mereka selanjutnya setelah terdampar di negeri yang hampir seratus persen penduduknya beragama Islam?

Seperti yang diberitakan detiknews (02/02/09), Pemerintah Indonesia akan segera mendeportasi “manusia perahu” ke negera asal mereka, Myanmar. Pemerintah menyimpulkan bahwa manusia perahu yang terdampar di Sabang diduga kuat bermotif ekonomi (economy migrant) .

Namun, seperti yang dituliskan Junaidi Beuransyah (acehlong.com), kesimpulan yang diambil pemerintah dalam proses pendataan dan investigasi terkesan dan terdapat adanya manipulasi. Pemerintah cendrung melibatkan International Organization for Migration(IOM) ketimbang UNHCR dalam menangani Muslim Rohingya. Seharusnya Pemerintah harus bekerjasama dengan pihak badan resmi PBB United Nation High Commision for Refugee(UNHCR) karena ini tugas dan wewenangnya mengurusi para pengungsi.

Keterlibatan IOM semata tanpa adanya pihak UNHCR soal penanganan pengungsi Myanmar ini sebenarnya belum sempurna segi keakuratan data dan informasi. Akibatnya mencuat isu dari politik berubah kemotif ekonomi. Kita yakin bahwa warga Rohingya yang terseret arus laut di perairan Aceh itu adalah bahagian dari keburukan politik dan penindasan penguasa junta militer.

Kita sangat memahami penyebab buruknya ekonomi itu merupakan akibat dari runyamnya situasi politik sehingga membuat para manusia perahu itu harus hijrah menyelamatkan diri sekaligus memperbaiki ekonomi dari luar negaranya.

Dengan kata lain, persoalan politik dan ekonomi yang sedang dihadapi para pengungsi politik dimanapun di dunia, merupakan dua sisi kehidupan antara keselamatan nyawa dan perubahan hidup. Jika perlindungan telah ada, maka secara otomatis akan menyusul dengan perbaikan nasib untuk hidup secara ekonomi. Singkatnya dua hal tersebut tak mungkin terpisahkan dan itu fakta.

Himbauan untuk Pemerintah

Kita meminta kepada Pemerintah Indonesia supaya mempertimbangkan kembali niatnya untuk mendeportasikan Muslim Rohingya agar keselamatan mereka terjamin. Departemen luar negeri kiranya perlu melihat secara lebih teliti bahwa kehadiran mereka ke Indonesia itu masih dalam konteks politik negara Myanmar yang begitu parah yang menyebabkan mereka tertindas dan keluar dari negaranya untuk mencari perhatian dan perlindungan politik dunia internasional. Mereka perlu dilindungi secara politik oleh Indonesia. Oleh sebab itu, pemerintah diharapkan menyambut baik semua manusia perahu dengan memberikan status negara kedua dan pemberian suaka kepada mereka sambil menunggu adanya jaminan keamanan yang menyeluruh dari negara ketiga.

Nasib manusia perahu sangat memerlukan perhatian dan bantuan dari Pemerintah Indonesia. Mereka itu (etnis muslim minoriti) golongan tertindas dan diusir dari negaranya akibat perlakuan penguasa junta militer yang cukup ganas. Sekarang mereka sudah terselamatkan dalam wilayah hukum negara Indonesia atau mereka kini berada di negara kedua. Karena itu perlindungan dan keselamatan harus diberikan kepada mereka dan bukannya membuang mereka kembali ke negara asalnya.

Sebaiknya Pemerintah Indonesia sesegera mungkin mencari jalan terbaik bagi menangani pengungsi tersebut. Pemerintah sangat diharapkan segera mengambil langkah positif untuk mengizinkan dan mengundang pihak UNHCR guna mempercepat penanganan mereka dan selanjutnya diterbangkan kenegara ketiga. Nasib dan derita yang mereka alami saat ini sungguh memprihatinkan. UNHCR adalah lembaga paling tepat untuk mengurusi mereka yang berstatus pelarian politik.

Penulis adalah Pengurus Forum Lingkar Pena Aceh, Ketua Litbang BEM FK Unsyiah





Jumat, 06 Februari 2009

Happy Birthday To Me

Februari 06, 2009 23 Comments
Wah ngga terasa banget kalo hari ini aku genap berumur duapuluh satu tahun (tua banget dah :)). Rasanya baru kemarin aku menyelesaikan bangku SMA. Sang waktu tak kenal kompromi untuk berlalu. Padahal aku udah berkali-berkali memutarnya agar kembali berputar ke masa lalu atau menyuruhnya untuk berjalan pelan-pelan saja. Tapi GATOT alias gagal total. Emang aku siapa bisa memutar-mutar waktu?

Hari ini aku berumur duapuluh satu tahun. Kira-kira apa ya yang telah kuperbuat dalam rentang usiaku ini? Ohh, aku jadi malu sendiri jika mengingatnya apalagi jika menceritakannya ke orang-orang. Sangat sedikit perubahan yang kulakukan, sangat banyak waktu yang terbuang percuma. LIZA!!!! Please deh. Bangun!!! Hari sudah senja. Umurmu juga hampir senja. Lakukan sesuatu. Tetap semangat yaa… Pantang menyerah. Dan selalu tersenyum J Peace!!! (menyemangati diri sendiri).

Btw, ngga ada salahnya kan aku mengucapkan Happy Birthday untuk diriku sendiri di blog ini. Lagian ini blogku. Walau sebenarnya aku juga ingin pembaca blog ini mengucapkan selamat ulang tahun untukku (hehehe). Jujur nih. Semua keluar dari palung hati (ngga pake lubuk lagi sekarang, palung, man!). Yeah, setidaknya akan bertambah orang-orang yang mendoakan agar umurku diberkahi sama Yang Di Atas. Semoga saja yaa,.amien. Berkahilah umurku Ya Allah. Semoga sisa umurku ini bisa kujalani dengan hal-hal yang berguna,.

Hmm, mau ngapain ya di hari jadiku ini? Jalan-jalan sendiri mengelilingi kota Banda Aceh? wah, ide yang bagus juga tuh. Sudah lama aku ngga jalan-jalan sendiri yang menurutku sangat asyik karena kita bisa memutuskan sendiri arah dan tujuan kita. Tapi,.. hah??? Aku belum bisa menaklukkan The Man Of The Week!!! Siangnya juga ada introduksi ujian Skills Lab. Aku juga harus nyetor berita hari ini. Ya sudahlah, mending aku mengerjakan yang penting-penting dulu. Satu lagi Liza, jangan lupa belajar untuk OSCE.

Ngomong-ngomong tentang The Man Of The Week, sumpah dia susah banget ditaklukkan. Dalam minggu ini sudah beberapa kali aku menghubunginya. Sudah berjam-jam aku menunggunya di kantor. Namun yang kudapat tidak ada apa-apa alias nothing. Susah banget sih, (ayoo Za jangan nyerah). Semoga saja The Man mau membalas smsku dan menentukan kapan kita bisa ketemu dan membahas hal yang sangat penting. Mohon doanya yaaa 

Cukup dulu postinganku hari ini. Semoga hari ini adalah hari yang indah diusiaku yang baru. Dan semoga hari-hari yang kujalani nantinya merupakan hari-hari yang bisa membawaku menuju kedewasaan dan menambah rasa syukurku pada Ilahi Rabbi.

Selasa, 03 Februari 2009

Mau Tau Kepribadianmu Seperti Apa?

Februari 03, 2009 21 Comments
Iseng-iseng nanya ini itu sama Oom Google, dapat deh cara ngetes kepribadian. Kali ini ada yang versi Indonesia,. Asyik banget kan? Ngetest kepribadian sendiri tanpa harus mumet-mumet mutar pikiran untuk cari tahu artinya, soalnya dulu-duu hanya ada versi english. Kalo mau coba, download aja (dalam bentuk excell ya).. (ada juga english version nya)

So, bagaimana hasil test kepribadian kamu?Download Yukk!!

Senin, 02 Februari 2009

Abang Becak Pake Baju Dinas

Februari 02, 2009 24 Comments

Kalo ada abang becak pake baju dinas alias baju kantoran, itu artinya apa ya? Hmmm, bisa jadi Abang becak itu pekerja keras, dia ngga hanya membanting tulang di kantoran, tapi tulangnya juga dibanting dengan mendayung becak,..Hohoho

Sebenarnya ngga ada yang salah sih dengan pakaian seorang penarik becak. Terserah dia mau memakai baju apa. Mau pakaian belel atau yang sangat necis, semua itu terserah mereka. Begitu juga kalo mereka memakai pakaian dinas. Nah, yang menjadi pertanyaan adalah Apa yang ada dipikiran Anda kalo melihat penarik becak memakai pakaian dinas (kalo hari senin baju dan celananya warna ijo ya?) pada jam kantoran? Penarik becakkah dia? Atau Pegawai Negeri Sipil yang sedang menari becak di jam kerja? TANYA KENAPA???

Kejadian itu memang kualami langsung. Aku menumpang becak yang pengendaranya memakai pakaian PNS pada pukul 11.00 WIB. Spontan ketika melihat pemandangan yang kurang indah di mata itu, sebuah pertanyaan muncul dari mulutku, " Ngga masuk kantor, Pak? Kok narik becak? Bukannya sekarang masih jam kantoran?"

Lelaki yang umurnya sekitar 50 tahunan itu hanya tersenyum kecut dan membiarkan pertanyaanku lenyap bersama angin. Ia terus menstarter motornya dan kemudian mengantarkanku ke tempat tujuan. Memang, pakaiannya tidak begitu mencolok karena ia memakai jaket untuk menutupi kemeja dinasnya. Tapi itu akan sangat kelihatan kalau kamu berada tidak lebih dari 50 cm dari abang becak tersebut.

Ingin rasanya menghujaninya ribuan pertanyaan dan alasan yang membuatnya tetap menarik becak di jam kantoran. Aku yakin, dia benar-benar seorang PNS. Dari pakaiannya juga sepatu yang dia gunakan. Lumayan rapi, bahkan sangat rapi kalau dibandingkan dengan penarik becak yang juga mangkal di tempat yang sama dengannya.

Fenomena yang biasa

Bolos di jam kerja merupakan fenomena yang biasa kudapatkan di Aceh. Tak jarang para abdi negara itu terjaring dalam razia di saat mereka sedang asyik-asyiknya menyeruput secangkir kopi di warung-warung pada jam kerja.

Meski sudah dilakukan razia, pada hari yang lain tetap ada saja orang-orangan sawah (eitsss, salah) orang katoran itu yang lebih memilih kerja di warung kopi ketimbang menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Entah apa yang mereka perdebatkan di sana? Dan yang paling membuatku bingung dan heran adalah setelah pulang kantor, pada sore sampai malam hari mereka kembali mengunjungi Warung Kopi.

Tapi, untuk kejadian hari ini, baru pertama kali ku alami dan ku lihat dalam hidup. Kenapa bapak itu menarik becak di jam kerja ya?

Mungkin di antara kalian sering juga melihat para abdi negara itu yang bolos kerja? Kira-kira apa ya solusinya?

Rabu, 28 Januari 2009

Aku Bangga Jadi Orang Indonesia

Januari 28, 2009 34 Comments

Ya, aku sangat bangga dilahirkan di negeri yang konon katanya Gemah Ripah Loh Jinawi ini. Kenapa mesti malu coba? Bukankah hubbul watani minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman) ?

Pak H. Rosihan Anwar, seorang wartawan nasional pernah mengungkapkan dalam puisinya betapa ia tidak malu menjadi orang Indonesia.

Aku tidak malu jadi orang Indonesia ... Biar orang bilang apa saja, biar, biar ... Indonesia negara paling korup di dunia Indonesia negara gagal Indonesia negara lemah Indonesia melanggar HAM Elite Indonesia serakah harta dan kekuasaan Presiden-presiden Indonesia dilecehkan humoris
Biar saja orang-orang menghujat Negara Indonesia ini dengan berbagai hujatan, dijuluki dengan bebagai julukan.Terserah! “Kalau kamu benci dengan negeri ini, kenapa tidak angkat kaki saja? Kenapa tetap saja mengais rezeki dan mempertahankan hidup di negeri yang kamu benci ini? Kenapa tetap menggunakan Bahasa Indonesia? Tetap memakai fasilitas Negara?” Kata-kata itu sangat layak diucapkan untuk mereka yang ngakunya “benci” dengan Indonesia.

Aku sangat bangga bertanah airkan Indonesia. Karena di dunia ini hanyalah Indonesia yang bernama Indonesia, berbahasa Indonesia, memiliki ribuan pulau, berbagai macam suku, sumber daya alam yang melimpah ruah, dan merupakan negara tropis.

Aku bangga menjadi rakyat Indonesia. Rakyat dari sebuah negara yang kaya raya, yang memiliki total penduduk seratus juta lebih, yang hampir setiap tahunnya dilanda bencana. Bayangkan saja kalau Indonesia tidak terdapat banyak bencana, maka pusat penelitian bencana akan berpindah ke negara-negara lain. Eitss,. Bukan bermaksud senang dengan bencana di negara ini. Dari pada bersusah, mending kita mengambil hikmahnya sambil terus membenah diri. Betul ngga?

Namun, di balik kebanggaanku aku merasa miris dengan sikap teman-temanku yang mengaku sebagai “RAKYAT” Indonesia juga. Tak jarang makian terus saja terlontar untuk negeri ini. Sangat beragam. Pantaskah Indonesia mendapatkan semua itu? Seandainya negaraku berwujud seorang ibu, maka matanya pasti kering karena tak ada lagi air mata yang bisa keluar. Telah kering air itu.

Coba kita telaah lebih lanjut. Indonesiakah yang salah? Saya rasa kalau Anda menjawab “Ya”, maka Anda salah besar! Indonesia hanya sebuah Negara, bukan manusia. Jadi yang salah adalah kita semua. Ya, kita semua yang masih berwujud manusia dan hidup di tanah air Indonesia.
Kenapa?

Kita bisa saja berdalih kalau kita hanyalah rakyat kecil yang menjadi korban para penguasa. Siapakah yang memilih penguasa? Kita juga kan? Kita-rakyat Indonesia.

“Wah, ngga fair itu. Saya ngga tahu menahu dengan semua itu. Saya hanya korban.” Lantas kenapa ngga mau mencari tahu? Kenapa hanya ikut-ikutan? Dan mau-maunya dikorbankan? Berapa abad kita sudah dijajah Belanda ditambah beberapa tahun oleh Jepang? Nah sekarang kan sudah merdeka, kenapa tetap mau dijajah.

Kita hanya bisa berdalih, menyalahkan orang lain, mengkritik, tapi tidak mau memberikan solusi.

Korupsi merajalela, kenapa? Karena kita telah menganggapnya hal yang biasa. Sogok-menyogok juga biasa. Semua dianggap biasa. “Sudahlah, biar urusannya cepat selesai,” dalih kita.
Nah, kalau hal itu tidak diberantas dan tetap menjadikannya sebagai hal yang biasa. Maka siapa yang salah?

Kritik boleh-boleh saja. Tapi negeri ini bukanlah miliknya para penguasa saja. Bukan milik para pejabat. Bukan hanya milik segelintir orang. Tapi, kita yang mengaku jadi rakyat Indonesialah pemiliknya. Jadi, jangan hanya mengkritik! Tapi berikanlah solusinya. Jangan hanya mengharap, tapi terjunlah bersama-sama membangun negeri ini.

Jadi jangan malu dengan keadaan negeri kita, tapi merasa malulah pada diri sendiri dan malu kepada Tuhan, serta malulah berkumpul bersama-sama dengan orang yang tidak mengerti arti hidup, orang yang tidak bisa menerima hidup ini dengan iklas, malulah berkumpul dengan orang-orang Indonesia yang tidak dapat jujur pada dirinya sendiri, suka bohong, menipu, maling (apapun bentuknya, lebih-lebih maling berdasi), yang harus Anda malu adalah jika Anda berkumpul bersama dengan para pejabat negara, dan para selebriti yang senang berfoya-foya, yang memiliki gaya hidup gengsi yang tinggi.

Mari kita lihat Negara Ethiopia dan negara miskin kerontang lainya. Atlet mereka tidak malu untuk terus berlari membawa bendera negaranya merebut emas marathon turun temurun. Mengapa kita musti ngomong malu tapi tidak bergerak dan hanya menjadi penonton atau komentator yg memalukan sambil memajang foto diri. Orang malu kan mustinya gak mau keliatan wajahnya.

Akan tetapi, saya yakin, ditengah bobroknya kondisi bangsa, masih banyak orang-orang yang sangat mencintai negeri ini. Orang-orang yang senantiasa saling menjaga dalam kebaikan masih ada, dan akan terus bertambah. Orang-orang yang yang mau bangkit dan bergerak, serta bisa menjadi solusi.

Mereka tidaklah seperti air yang menggenang, yang hanya diam saja dan menjadi sarang penyakit. Mereka adalah air yang mengalir, air yang bermanfaat bagi sekitarnya. Dan tentu saja mereka bukanlah orang-orang yang berkerumun tidak beraturan.

Menyehatkan Bangsaku

Januari 28, 2009 17 Comments
Apa yang telah kau berikan untuk negerimu? Sebuah pertanyaan yang sangat menggelitik, membuatku sadar, dan kembali bertanya “apa yang telah kuberikan?” Nothing. Tidak ada yang bisa kusumbangkan untuk negeriku selama aku hidup di bumi pertiwi ini.

Memalukan memang. Dua decade aku menjadi bagian dari negeri ini, tapi aku hanya numpang saja tanpa mampu balas saja. Kalau dihitung dalam detik, menit, dan jam sungguh tak sanggup kulakukan. Bukanlah sebuah alasan jika aku berdalih kalau aku tak lebih dari seekor semut di negeri ini. Wajar saja aku tidak bisa berbuat sesuatu. Aku sangat kecil di negeri yang sangat besar.

Sebuah alasan yang sangat tidak rasionalis, dan sangat kelihatan dibuat-buat.

Sering ketika menjawab soal-soal kewarganeraan tentang hal-hal apasaja yang dilakukan anak negeri untuk mengisi kemerdekaan bangsa ini, maka aku akan menjawab : Belajar dengan tekun dan menghargai jasa pahlawan. Sebuah jawaban yang memang telah terdikte dan termaktub dalam buku-buku. Itu saja. Tidak lebih. Dapat nilai bagus, sudah cukup.

Semakin beranjak dewasa, aku semakin sadar. Memang keberadaanku takkan bisa merobohkan benteng keterpurukan negeri ini. Tapi aku yakin, kedua tanganku mampu meringankan beban saudaraku yang memerlukannya. Ya, aku yakin itu.

Kita tidak perlu menjadi hebat dalam bertindak, tapi berbuatlah untuk menjadi hebat. Aku, yang mengecap ilmu kedokteran merasa yakin bisa memberikan sumbangsih yang besar untuk negeriku. Kemampuanku sebagai dokter nantinya bisa membantu meringankan angka kesakitan di negeri ini.

Sehat adalah dambaan setiap orang di seluruh pelosok dunia. Karena cara paling cepat masuk kubur adalah dengan mati. Cara paling cepat mati adalah dengan sakit-sakitan. Adalah fakta jika kebanyakan orang tidak ingin cepat mati. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bukan jika orang-orang rela menghabiskan seluruh hartanya biar tetap sehat?

Sehat bukan hanya merefleksikan prospek untuk hidup lebih lama, bahkan juga menjadi fondasi untuk hidup lebih produktif secara sosial maupun ekonomi. Jadi, bebas penyakit adalah syarat utama untuk hidup lebih maju. Maka wajar saja kalau di negara-negara maju, angka kematian sangat kecil. Bandingkan saja, dari 1000 kelahiran bayi di Indonesia, 33 diantaranya meninggal. Sementara Malaysia, tetangga kita, hanya 8 yang meninggal dari 1000 kelahiran (UNDP, 2003).

Kebutuhan akan sehat tidak hanya diperoleh dengan cara hidup sehat, tapi juga dengan adanya pelayanan kesehatan. Adalah tugas negara untuk membuat rakyatnya sehat dengan membuka akses kesehatan secara maksimal. Kesempatan untuk mendapat pelayanan kesehatan dipandang sebagai hak paling asasi dari rakyat. Maka tidak boleh tidak, pemerintah harus menyediakan rumah sakit, dokter, perawat, obat-obatan, perlengkapan serta pelayanan lainnya dengan mutu dan standar yang optimum.

Namun pada kenyataannya, pelayanan kesehatan di masyarakat kita masih jauh untuk dapat dikaatakan memadai, terlebih lagi jika hal itu telah menyangkut rakyat miskin, masyarakat yang justru mendominasi negeri ini. Tidak jarang kita melihat banyaknya kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah terutama menyangkut program-program yang ditawarkan pemerintah untuk memudahkan mereka dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

Nah, dengan kemampuan yang kumiliki, ingin rasanya mengabdi untuk negeri ini. Bukan ingin, tapi aku harus mengabdi. Sekarang aku hanya seorang mahasiswa kedokteran yang sebentar lagi memasuki semester enam, semester delapan nantinya aku akan mengikuti kepanitraan klinik di rumah sakit, satu setengah tahun lagi aku akan menjadi dokter. Yeah, kalau diakumulasikan lebih kurang tiga tahun lagi aku resmi menjadi dr. Liza Fathiariani (amiiin, mudahkanlah jalanku ya Rabb!)

Kalau sekarang, aku belum bisa menerapkan ilmu yang kumiliki untuk masyarakat. Karena memang peraturannya seperti itu. Bisa-bisa aku dikeluarkan dari kampus jika ketahuan. Lantas, apa yang bisa kulakukan? Yupz, aku bisa mengabdi untuk negeriku dengan bersungguh-sungguh belajar, aku juga bisa menyuarakan aspirasi saudaraku dengan lidah dan penaku. Ya pasti bisa. Insyaallah.

Jika aku manjadi dokter nanti, ingin rasanya aku mengikuti jejak Patch Adams, seorang revolusioner sosial, DOKTER, badut, dan pria dengan segudang prestasi. Patch adalah pendiri Gesundheit! Institute, klinik pengobatan gratis di West Virginia ang telah merawat lebih dari 15.000 pasien (lengkapnya buka http://liza-fathia.blogspot.com/2009/01/dokter-atau-badut.html). Menjalankan profesiku tanpa harus membebankan saudaraku. Semoga engkau mengabulkannya ya Allah. Amien..

“The people that are trying to make this world worse are not taking a day off — how can I? — Light up the darkness.” (I Am Legend)

Selasa, 27 Januari 2009

Mengais Rezeki di Gerbong Kapitalis

Januari 27, 2009 18 Comments
 

Lelaki tua itu terus membereskan sayur dagangannya. Sesekali ia menyeka keringat di dahi yang mengucur dengan tangannya. Kemudian ia duduk dan menunggu pembeli datang. Pagi itu, hari Minggu (18/1/09), trotoar tempat ia menjajakan dagangannya tampak sepi. Begitu juga dengan badan jalan, hanya ada satu-dua kendaraan yang berlalu lalang.

“Hari Minggu begini memang sepi. Siang pun masih tetap sepi,” ujarnya dalam Bahasa Aceh yang sangat kental sambil mengambil beberapa daun melinjo tua dan kemudian membuangnya ke dalam kantong plastik yang memang telah disediakannya.

Aku hanya mengangguk saja. Dalam diam aku melihat sayur dagangannya. Daun melinjo, melinjo, asam sunti, sirih, dan daun jeruk berjejeran di atas plastik biru berukuran setengah meter. Semuanya adalah sayuran khas Aceh.


“Abdul Wahab,” jawab lelaki itu ketika kutanyakan namanya. Sambil tersenyum ramah, ia menjelaskan asal usulnya. Delapan puluh tahun silam ia lahir di Lambaro Angan, sebuah desa di Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. “Watee jameun Belanda, lon ikot prang chit,” paparnya dengan semangat.

Kerutan di wajah, gigi-geligi yang telah tanggal, uban yang telah tumbuh menutupi batok kepala, dan tubuh yang semakin ringkih membuktikan bahwa usianya telah senja. “Saya telah jualan sayur sejak Jepang telah angkat kaki dari Aceh. Waktu itu saya jualannya di Pasar Peunayong bersama istri sampai musibah tsunami tahun 2004 lalu,” Pak Abdul memulai kisahnya sebagai pedagang sayur, "setelah tsunami, saya pindah ke sini. Sedangkan istri tetap di Peunayong.”

Bapak dari lima orang anak itu kemudian menunjuk ke bangunan di belakangnya. Bangunan itu begitu megah dengan tulisan makanan khas Italia Pizza Hut di pamfletnya. “Dulu waktu saya mulai jualan di sini, toko pizza ini belum ada,” jelasnya, “sengaja saya pindah ke sini karena di Peunayong sudah banyak penjual sayur yang lain. Setahun yang lalu, setelah rumah kami selesai dibangun di Lambaro Angan, saya menyuruh istri saya untuk di rumah saja. Biar saya saja yang mencari rezeki. “Aneuk mit pih ka leuh meukawen mandum.”

Kehadiran Abdul Wahab yang berprofesi sebagai penjual sayur di trotoar jalan Simpang Lima memang sangat kontras dibandingkan dengan kondisi sekitar, sehingga menjadi pusat perhatian pengguna jalan. Betapa tidak, di tengah maraknya para peminta-minta yang memadati kawasan Simpang Lima dan semakin merajalelanya kapitalisme yang tampak jelas dari bangunan-bangunan yang lebih “wah” dibandingkan bangun-bangunan lain dengan menawarkan berbagai macam jenis makanan cepat saji, namun lelaki itu tetap saja mencoba bertahan.

***

Matahari semakin terik pagi itu. Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 09.30 WIB. Itu artinya sudah dua setengah jam lebih Abdul Wahab menjajakan dagangannya. Namun, belum satu pun pembeli yang nongol. Setelah selesai shalat subuh lelaki paruh baya dengan peci hitam yang melekat di kepala itu telah beranjak dari rumahnya menuju Simpang Lima. Ia harus menghabiskan waktu selama satu jam lebih untuk untuk sampai ke tujuan dengan menggunakan labi-labi.

“Biasanya berapa banyak sayur yang terjual sehari?” aku kembali bertanya.

Lagi-lagi ia tersenyum sambil memamerkan gusinya yang tak lagi bergeligi. “Kadang-kadang hana ureung bloe, neuk!” jawabnya tetap tersenyum.

“Tapi, tiap hari pasti ada orang yang ngasih. Bahkan pernah sehari sampai seratus ribu,” jelas lelaki dengan postur tubuh agak sedikit pendek itu seolah mengetahui keherananku. ”Waktu megang, ada saja orang yang memberikan sedekah. Ada yang ngasih kain sarung, beras, gula, bahkan uang.”

Melihat dagangan yang ia jual, pastinya orang-orang lebih memilih ke pasar untuk membeli sayur-mayur yang lebih lengkap dan banyak pilihannya. Namun, semangatnya yang membara membuat orang tak segan-segan untuk memberinya puluhan ribu rupiah. “Dari pada ngasih ke pengemis,” ucap Ade, seorang mahasiswa ketika kutanyakan alasannya.

“Saya udah tua, Nak! Mau ke sawah sudah tidak sanggup lagi. Dari pada hanya diam di rumah, mending saya mencari rezeki di sini. Yang jelas saya tidak mau mengemis. Hana guna nyan, Neuk! Peumale droe mentong.” Setidaknya lelaki tua yang berjualan di trotoar itu telah berusaha untuk mencari rezeki. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah?

“Pergilah ke jalan yang lurus, Nak! Beu meutuah beh,” pesannya kepadaku ketika aku berpamitan.

Sabtu, 24 Januari 2009

Perahu Kertas Liza

Januari 24, 2009 10 Comments
Sore ini, setelah membaca novel Perahu Kertas-nya Dee aku mencoba menflashback memori kecilku tentang perahu kertas. Pengalaman yang unforgetable memang jika mengingat masa-masa indah ketika kita masih belum begitu tertipu oleh dunia. Ketika seorang bocah kecil dengan adik lelaki semata wayangnya sedang bermain hujan-hujanan di belakang rumah sambil melepaskan perahu kertasnya satu persatu di saluran air yang dijadikan petani untuk mengairi sawah mereka. Rumah ke bocah perempuan itu memang langsung berbatasan dengan sawah.

Aliran air ketika jujan cukup deras, membuat perahu kertas mereka terapung-apung dan hanyut terbawa arus. Sangat senang rasanya ketika perahu itu terbawa air, seolah ada sebuah beban yang pergi bersamanya.

Sore ini, aku tinggal sendiri di ruangan kantorku. Tak ada lagi Kak Riza dan juga Bang Isra, Kontributor Majalah AER. Ketika membaca novel itu, aku begitu hanyut dibawa kenangan masa kecilku.

Memang, inti cerita dari novelnya Dee bukanlah tentang perehu kertas. Tapi kebiasaan tokoh utamanya Kugy, yang suka bermain perahu kertas itu membuatku ingin segera menghabiskannya. Tak peduli berjam-jam sudah aku didepan monitor komputer, dan tak peduli apakah masih ada orang di bawah (kantorku di lantai dua). Namun yang sangat disayangkan, aku tidak mendapatkan full versionnya. Maklumlah, hanya ebook gratis.

Namun, aku seolah melihat sosok Kugy itu ada pada diriku. 1. Aku sangat sukai air dan zodiakku Aquarius. Kugy juga begitu.
2. Aku suka nulis tapi ngga bisa menggambar. Duh,..tobat deh kalo disuruh menggambar. sejak SD sampai sekarang aku sanagt tidak bisa menggambar. Seoalah tidak ada koneksi yang baik anata tangan dan imajinasiku. Dari dulu dulu setiap di suruh menggambar, aku hanya melukiskan 2 puncak gunung, sepetak sawah, dan sebuah rumah. Hanya itu lukisanku yang tidak abstrak. Selebihnya? kalo aku menggambar ayam, jadinya han ya sebuah batu pecah. (cukuplah, jadi malu sendiri). Nah, kugy dalam cerita itu persis sepertiku. Pintar nulis tapi ngga bisa gambar. Tapi Kugy punya Keenan yang mau mengilustrasikan tulisannya dalam bentuk lukisan. Sedangkan aku? (Hopeless)
3. Kugy punya semangta yang tinggi dan cuek,. kalo ini sih kurang lebih sama
4. Kugy kuliah di jurusann sastra, ini sangat berbeda, aku kuliah di jurusan pendidikan dikter.

But,..karakter tokoh kugy disini membuatku seperti bercermin

Rabu, 21 Januari 2009

GILA… AKU TERSESAT DI RUMAH SAKIT JIWA

Januari 21, 2009 20 Comments
Pagi itu udara begitu dingin jika dibandingkan dengan panasnya Banda Aceh saban harinya. Jelas saja, dinginnya pagi membuat orang-orang akan tetap bermalas-malasan keluar untuk beraktivitas seperti biasanya. Atau mungkin hanya aku saja yang merasa seperti itu? Entahlah, may be yes, may be no, kata Ringgo dalam sebuah iklan rokok. Aku belum bisa memabaca pikiran orang, jadi anggap saja hanya aku yang menderita kemalasan saat itu.

Namun, walau bagaimanapun aku harus tetap beranjak keluar dari kamar. Mandi dan menjalankan kegiatan pagiku dengan berjalan sekitar seratus meter menuju kampus tercinta. Menelusuri trotoar jalan dan menatap langit yang diselubungi awan hitam pertanda hujan akan datang.

Pukul 7.50 aku baru beranjak dari rumah kost menuju kampus. Jelas saja itu tidak membuatku telat, meskipun sepuluh menit lagi kuliah akan dimualai. Dalam tempo lima menit, aku sudah tiba di sana. Jalanku memang cepat. “Kalo jalan lurus terus, ngga liat kiri kanan,” kata temanku. Jadi, its okay. Aku kemungkinan besar (setidaknya 50-50 lah) untuk telat.

Tapi, tidak untuk pagi itu. Tahu kenapa? Karena aku harus menuju Rumah Sakit Jiwa yang jaraknya lebih kurang (lebih malah) 30 menit dengan labi-labi. Malamnya temanku telah mengirimkan sms kalau kami harus ngumpul jam 7.30 di depan RSJ. But, the fact?
1. Pukul 7.50 : Berangkat ke kampus
2. Pukul 7.55 : Tiba di kampus dan melihat tak ada satupun teman sekelasku di seputaran kampus (Ya iyalah, you’re very late Liza) yang kutemui hanya teman-temanku yang belum dapat giliran untuk visit ke RSJ
3. Pukul 8.00 : Labi-labi belum satu pun yang nongol, kalau pun ada semuanya menuju ke Tungkop bukan ke Kota Banda Aceh
4. Pukul 8.05 : Aku masih sedikit santai walaupun telah panic seperempat mati. (biasanya setengah mati kan?)
5. Pukul 8.10 : Sebuah labi-labi berhenti dan aku menumpanginya sampai ke depan Rumah Sakit Zainal Abidin.
6. Pukul 8.30 : Aku baru tiba di RSUZA, lumayan cepat dari perkiraan karena angkotnya melaju lumayan kencang

Telat..

So, aku telat satu jam!!! Saat itu aku sudah membayangkan ceramah apa yang akan kudapatkan dari dokter-dokter spesialis jiwa itu.
Dokter A : Kamu kenapa telat? Kamu tau sekarng jam berapa? Sudah satu jam kamu terlambat. Mau jadi dokter macam apa kamu? Berapa banyak pasien yang bakalan mati karena keterlambatan kamu?
(Sekarang aku kan tidak menangani pasien emergency, aku hanya mewawancara pasien gangguan jiwa. Ngga mungkin mereka bisa meninggal gara-gara itu. Logis dikit dong dokter)
Dokter B : Jangan kamu pikir karena ini bukan pasien emergency kamu bisa sesuka hati. Pasien psikosis (waham=gila) ini bisa saja kalau kita telat menangani akan melakukan bunuh diri. Dimana naluri kemanusiaan kamu? Sekarang kamu ngga bisa masuk! Akan saya laporkan ke PBL kalau kamu tidak lulus mata kuliah ini
(Wah, dokter B hebat!! Bisa baca pikiranku. Tapi ngga ada tuh pasien yang meninggal? Ngga ada kan? semua pasien di bangsal manapun tetap fit aja walau mengalami gangguan mental organic. Jangan bawa-bawa naluri kemanusiaan dok! Gini-gini saya masih punya perasaan untuk sesama. Untuk hewan aja saya sangat sayang, apalagi manusia. What? Saya ngga lulus mata kuliah ini? serius dok? Tega banget dokter. saya kan ngga sengaja telat. Dokter, jangan gitu dong. Kasihanilah saya..hiks hiks)

Hmmm,..syukur itu hanya pikiran bodohku.

Sekarang, di depan RSUZA aku kembali kebingungan. Jarak RSJ masih jauh ke sana. Tidak ada angkutan umum yang melintasi Jl. Kakap itu. Segera kupanggilkan becak untuk mengantarkanku ke tujuan. Pukul 8.40 aku tiba di halaman depan RSJ.

Di sana aku kembali memikirkan hukuman yang akan diberikan dokter spesialis jiwa itu kepadaku. Bagaimana kalau itu memang benar terjadi? Ya Allah, help me. Ini semua benar-benar keteledoranku. Aku sangat kurang menghargai waktu. Kemarin-kemarin Allah masih memberikan kesempatan bagiku untuk tidak mengulangi kebiasaan burukku yang kadang-kadang kumat (Misalnya waktu presentasi lomba essay itu). Nah, sekarang aku melakukan kesalahan itu lagi. TELAT LAGI!!!

Tersesat


Aku benar-benar asing dengan suasana RSJ. Walaupun sudah beberapa kali melintasinya, tapi baru kali ini aku singgah dalam waktu yang lumayan lama. Tak bisa kubedakan yang mana pasien dan yang mana buruh bangunan yang sedang merenovasi rumah sakit itu. Karena tidak semua pasien memakai pakaian rumah sakit, ada sebagian yang memakai pakaian sehari-hari mereka di rumah. Aku memasang muka lilin. (gimana bentuknya ya? Aku sendiri ngga tau, hehe). Kukurangi sifat ramahku. Hanya dokter dan perawat yang kutegur (walau dengan sedikit curiga kalau mereka beneran dokter/perawat atau pasien yang berobsesi menjadi dokter/perawat).

Tak lama berada di halaman rumah sakit, aku berpas-pasan dengan Wanda, teman seangkatanku namun tidak sekelas.
“Wanda, teman-teman sekelas Liza dimana?”
“Ngga tau juga, Za. Wanda kena di UGD. Nomer absent Liza berapa?”
“9”
“Mungkin kelompok 3. soalnya kita dibagi menjadi beberapa kelompok. Udah dulu ya Za. Wanda mau fotokopi status nih.”
“Thanks, Da,” ucapku dengan sedikit lega.

Nah, dimanakah kelompokku itu berada? di ruangan mana? Aku sama sekali tidak familiar dengan RSJ. Aku pun memutuskan untuk menuju UGD yang terletak tidak begitu jauh dari tempatku berada sekarang. Kutanyakan dimana kelompokku berada pada dokter-dokter muda yang sedang co-ass pada bagian itu. Tapi nihil. Mereka juga tidak tahu. Kemudian tiba-tiba seorang dokter menghampiriku, aku mulai berpikir macam-macam. Jangan-jangan dokter itu akan memarahiku. (Tenang Liza. Calm down!)
“Coba kamu ke bagian poli, lurus saja ke depan kemuadian naik tangga. Di situ cari aja ibu xxx (lupa namanya). Kamu tanyakan dimana kelompokmu.”

Syukurnya dokter itu baik. Tidak seperti pemikiranku. Langsung saja kutemui ibu yang dimaksud. (Yang lebih sialnya hari itu, aku kehabisan pulsa untuk menelpon teman sekelompokku).
Setelah menemui ibu itu, aku langsung mencari RUANGAN REHABILITASI, tempat teman-temanku berkumpul. Untuk mencapai ruangan itu aku harus menempuh beberapa bangsal yang dipenuhi oleh orang-orang yang terganggu jiwanya.
“Bu Dokter sini dong!”
“Hai Bu Dokter Cinta.”
Dan lain-lain.

Berbagai panggilan nyeleneh dilontarkan pasien-pasien itu. Ada yang cuek bebek, ada yang melamun, ada yang sedang tidur-tiduran, ada juga yang iseng. Aku tetap memasang “wajah lilin”, kaku, tak ada ekspresi. Seperti yang kubaca dari sebuah literature, begitulah muka penderita Parkinson. Mask face, tak ada ekspresi. Naudzubillah.

Aku terus berjalan menelusuri koridor RSJ. Berjalan dan menatap lurus ke depan tanpa melihat kiri kanan (karena di situ ada pasien). Ketika melihat gerombolan manusia yang memakai baju puti (perawat.red) aku langsung menanyakan di mana ruang itu berada.

Tiba-tiba aku berpas-pasan dengan dokter spesialis jiwa yang kebetulan menjadi pembimbing kelompokku.
“Dok, maaf saya telat.”
“Kenapa bisa telat?” tanyanya ramah.
“Labi-labinya dok…” aku memutuskan ucapanku. Saya memang telah telat dari rumah dan ditambah lagi labi-labinya agak sedikit lelet, dok.

Syukurnya dokter itu tidak menanyakan panjang lebar alasanku dan menyuruhku langsung menganamnesis salah satu pasien.
“Kenapa kamu? Kesasar ya?” Tanya dokter umum yang mengatur jadwal wawancara kami.
Aku hanya tersenyum dan langsung memasuki ruangan rehabilitasi itu.

Aku melihat teman-temanku sedang mewawancara pasien-pasien gangguan jiwa satu orang satu pasien. Duduk berhadapan, tanpa ada meja sebagai penghalang. Weiks… semua pasien laki-laki. Ada yang sudah lansia, dan ada juga yang masih muda. (hmm, lumayan cakep…:p )

Wawancara Pasien psikosis

“Sekarang kamu wawancara pasien ini,” suruh dokter jiwa yang berpas-pasan denganku tadi.
Dan duduklah seorang lelaki, berumur 23 tahun, dengan kulit sawo matang, dan tinggi proposional di depanku. Jarak kami hanya 30 cm. glekk!! Bismillah. Aku mulai mewawancarainya.

“Bapak saya tidak sanggup kasih makan lagi, makanya saya dibawa ke sini. Di sini saya mau belajar ilmu hitam dari roh para leluhur. Saya tidak gila, makanya saya ngga mau pake baju seperti mereka. (pasien itu memakai kemeja dengan rompi dan celana jeans belel).”

“Dokter mau xxxxx (sensor).” (ternyata pikirannya mesum)

“Kalau saya keras kepala, saya di setrum sama dokter itu (ia menunjuk dokter jiwa). Setiap hari saya dikasih obat merah. Kalau saya mulai keras kepala saya di suntik,” ia menunjukkan lokasi tempat disuntik.
Aku ketakutan sendiri menghadapi pasien ini. Ketika menoleh kea rah teman-temanku, mereka fine-fine saja. kemudian aku menanyakan ia sakit apa? Langsung saja dia dia mengetuk-ngetuk kepalanya, kemudian menggeleng-gelengkanya, dan menatapku dengan tajam kemudian tertawa.

Sesaat kemudian, pasien di depanku itu diam. “Kenapa diam?”
“Arwah leluhur sedang keluar dari badan saya. Yang tadi ngomong itu arwah leluhur dari Medan dan Jawa Barat.”

Aku melihat matanya begitu sayu. Mungkin efek dari obat-obatan penenang yang diberikan untuknya.
“Liza fathi a riani,” lelaki itu membaca namaku yang tertulis di Badge nama yang pasang pada kerudungku. Kemudian menatapku dengan pandangan yang dalam. Aku mencoba mengalihkannya pada makanan yang kubawa dari rumah.
“Saya kenyang.”
“Dokter mau nikah sama saya?”
Glekkkk!!! Dokter muda yang dari tadi mondar-mandir tersenyum sendiri melihat tingkah pasienku. Memang kalau kita perhatikan, tingkah pasien jiwa itu tak beda seperti pelawak di televisi. Namun, tanpa kita sadari bisa saja mereka melakukan sesuatu yang dapat membahayakan jiwanya sendiri atau orang di sekitar.
“Bohong!!!” suara pasienku meninggi ketika kujawab kalau aku sudah menikah. Aku merinding sendiri. Jarak pasien itu dengan ku semakin dekat. Aku menggeser kursiku kebelakang lagi. Sehingga jarak kami semakin jauh.
“Maaf, saya belum nikah. Tapi mana mungkin orang mau sama kamu kalau kamu tetap disini? Kamu harus sembuh dulu. Minum obat yang teratur. Baru pulang. Dan nikah.”
“Saya mau pulang kalau Bapak jemput. DAN NIKAH. HAHAHHA”

Ketegangan pun mereda. Kemudian ia tersenyum padaku. “Makasih ya bu dokter Liza fathiariani, toss dulu lah!”

Akhirnya selesai juga aku mewawancara pasien itu. setelah kupaparkan permasalahannya ke dokter yang membimbingku, ia mengatakan bahwa kalau dilihat dari masalah yang kusampaikan, pasien itu masih mengalami gangguan. Seperti ilusi dan halusinasinya untuk menjadi dukun ilmu hitam. Sedangkan teman-temanku tidak memaparkan keluhan yang berarti karena memang pasien yang dirawat di ruang rehabilitasi itu sudah sembuh 60-80%.




Follow Us @soratemplates